ACEH – Sejumlah anggota Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Aceh yang juga memiliki hak suara (voter) dalam Kongres Asprov PSSI Aceh menegaskan bahwa Asprov PSSI Aceh telah memiliki Ketua Umum definitif hasil kongres yang sah. Karena itu, mereka menilai tidak diperlukan lagi penunjukan Pelaksana Tugas (PLT) Ketua Asprov PSSI Aceh oleh PSSI Pusat.
Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Askab PSSI Aceh Timur, Muhammad Adam, yang merupakan salah satu voter Kongres PSSI Aceh, kepada awak media pada Sabtu (24/10/2026).
Menurut Muhammad Adam, sebanyak 33 anggota Asprov PSSI Aceh yang juga voter kongres telah menandatangani Pernyataan Sikap Bersama Nomor 01/IST/PSA/X/2026 tertanggal 21 Oktober 2026. Pernyataan itu pada intinya menolak penunjukan Rudi Yanto sebagai PLT Ketua Asprov PSSI Aceh sebagaimana tertuang dalam Keputusan PSSI Nomor SKep/224/X/2026 tanggal 10 Oktober 2026.
Sudah Ada Ketua Umum Definitif
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Rudi Yanto yang ingin melihat perkembangan sepak bola Aceh sebagai PLT. Namun, perlu kami tegaskan bahwa Asprov PSSI Aceh sudah memiliki Ketua Umum definitif, yaitu Saudara Nazir Adam, S.E., yang terpilih melalui Kongres Asprov PSSI Aceh secara sah dan demokratis,” kata Muhammad Adam.
Ia menjelaskan, dalam kongres yang digelar pada 3 Oktober 2026 tersebut, Nazir Adam memperoleh dukungan mayoritas dengan meraih 32 suara dari para voter yang hadir, mengungguli kandidat lainnya yang mengikuti proses pencalonan.
Muhammad Adam menegaskan bahwa pelaksanaan Kongres Asprov PSSI Aceh telah berjalan sesuai ketentuan dan mekanisme yang diatur dalam Statuta PSSI Tahun 2025. Seluruh peserta yang memiliki hak suara, lanjutnya, diundang secara resmi oleh Asprov PSSI Aceh sesuai tahapan yang telah ditentukan.
“Kami hadir sebagai voter berdasarkan undangan resmi dan mengikuti seluruh tahapan kongres. Oleh karena itu, kami menilai hasil kongres tersebut sah dan memiliki legitimasi yang kuat sesuai Statuta PSSI,” ujarnya.
Minta PSSI Pusat Hormati Kongres
Atas dasar itu, ia bersama para voter lainnya meminta Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, dan Sekretaris Jenderal PSSI, Yunus Nusi, untuk menghormati hasil kongres yang telah dilaksanakan.
“Kami menegaskan bahwa tidak perlu lagi ada PLT Ketua Asprov PSSI Aceh, karena sudah ada ketua umum yang terpilih melalui kongres. Kami berharap PSSI Pusat menghormati suara anggota dan menjaga kebersamaan serta persatuan sepak bola Aceh,” tegasnya.
Hasan Basri Pertanyakan Dasar Keputusan
Sementara itu, Hasan Basri, Ketua Umum PSBL Langsa yang juga salah satu voter Kongres PSSI Aceh, mengatakan bahwa sepak bola seharusnya menjadi sarana untuk mempererat persatuan, bukan sebaliknya.
“Sepak bola memiliki filosofi persahabatan dan kebersamaan yang mampu menyatukan daerah, bangsa, dan negara. Karena itu, kami berharap kebijakan yang diambil dapat membawa kesejukan dan tidak menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat sepak bola Aceh,” ujarnya.
Hasan Basri juga menyampaikan tanda tanya atas terbitnya surat keputusan penunjukan PLT Ketua Asprov PSSI Aceh. Ia menilai hasil Kongres Asprov PSSI Aceh telah dilaksanakan sesuai aturan yang berlaku dan menghasilkan Ketua Umum Asprov PSSI Aceh periode 2026–2030 yang memiliki legitimasi dari anggota.
Menurut Hasan Basri, surat keputusan yang diterbitkan PSSI Pusat juga tidak menjelaskan secara rinci alasan yang menjadi dasar penunjukan PLT tersebut.
“Kami mempertanyakan dasar pertimbangan yang digunakan dalam penerbitan keputusan tersebut. Sebab, hasil kongres telah berjalan sesuai mekanisme organisasi dan ketentuan statuta yang berlaku,” ujarnya.
Ia menambahkan, keputusan kebijakan strategis organisasi idealnya diambil melalui mekanisme internal. Ia menduga kebijakan strategis tersebut tidak melalui forum atau rapat Exco PSSI yang memiliki kewenangan untuk membahas dan memutuskan kebijakan strategis sesuai Statuta PSSI edisi tahun 2025.
Karena itu, para voter berharap terjadi komunikasi dan penyelesaian secara organisasi demi menjaga stabilitas pembinaan serta perkembangan sepak bola di Aceh.
“Kami berharap semua pihak mengedepankan semangat musyawarah, menghormati mekanisme organisasi, dan menjadikan kepentingan kemajuan sepak bola Aceh sebagai tujuan utama,” pungkas Hasan Basri.












