Wali Murid SDN 2 Glagah Jatinom Keluhkan Biaya Seragam hingga Outing Class, Kepsek Buka Suara

KLATEN – Sejumlah wali murid SD Negeri 2 Glagah, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, mengeluhkan biaya pengadaan seragam dan lembar kerja siswa (LKS) yang dinilai memberatkan. Berdasarkan keterangan wali murid, biaya yang disebut untuk kebutuhan tersebut mencapai Rp200 ribu.

Selain persoalan biaya, wali murid juga menyoroti kegiatan outing class yang dinilai cukup sering, yakni dua kali dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, yaitu ke Bayat dan Pabrik Handuk di Polanharjo.

“Saya beli seragam sama buku LKS. Kalau buku harganya sekitar Rp200 ribu. Seragam dan buku belinya di toko sayur dekat sekolah,” ujar salah satu wali murid yang enggan disebut namanya, Kamis (22/10/2026).

“Masak belum ada satu tahun anak-anak diajak outing class ke Bayat sama Polanharjo di Pabrik Handuk,” keluh wali murid lain.

Kepsek: Program Sudah Dirapatkan

Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Sekolah SDN 2 Glagah, Sulastri, menegaskan bahwa program sekolah sudah dikoordinasikan pada hari pertama masuk sekolah, Senin (13/7/2026), bersama komite sekolah, wali murid, dewan guru, dan diketahui Pemerintah Desa Glagah.

“Di dalam penyampaian program sekolah itu sudah saya sampaikan ke wali murid tentang apa saja yang akan dilakukan berkaitan dengan peningkatan mutu,” jelasnya.

Ia juga meluruskan bahwa pengadaan seragam tidak bersifat paksaan.

“Dalam penawaran itu sekolah tidak memaksa membeli. Boleh memakai seragam punya kakak atau lungsuran dari saudara,” tegasnya.

Kepala sekolah juga menjelaskan bahwa pihak sekolah tidak berbelanja sendiri. Sekolah hanya memfasilitasi konveksi yang datang mengukur langsung ke sekolah atas permintaan wali murid.

“Untuk kaos dari konveksi itu Rp75 ribu rata karena modelnya sama, sampai lulus. Untuk batik khusus kelas 1 (siswa baru), laki-laki lengan pendek Rp110 ribu, yang perempuan lengan panjang bersama rok Rp115 ribu. Itu permintaan dari wali murid, bukan paksaan dari sekolah,” paparnya.

LKS untuk Pendampingan Belajar

Sementara itu, untuk LKS, dijelaskan sebagai buku pendamping belajar untuk pendampingan anak belajar bersama orang tua di rumah. Hal itu juga sudah disampaikan dalam forum rapat.

Terkait outing class dua kali dalam setahun, Kepala Sekolah menjelaskan bahwa kegiatan tersebut berbeda tahun ajaran.

“Untuk tahun ajaran 2025/2026 itu baru terlaksana di akhir tahun, Juni 2026, ke Bayat. Seharusnya jadwalnya September 2025. Kendalanya musim hujan, kalau perjalanan jauh kami tidak berani, akhirnya tertunda sampai Juni. Kemudian yang kedua terlaksana 24 September 2026 ke Polanharjo, itu sudah masuk tahun ajaran 2026/2027. Jadi saya jadwalkan satu tahun satu kali,” jelasnya.

Terkait pembiayaan outing class, sekolah sudah membuat proposal dan merapikannya bersama sehingga orang tua mengetahui peruntukannya. Kepala sekolah menyayangkan keluhan tersebut tidak disampaikan langsung ke pihak sekolah.

“Kami itu sudah dari awal transparansi. Kita rapatkan bareng, kita ambil keputusan bareng. Kalau ada keberatan, silakan sampaikan pada pihak sekolah biar bisa dievaluasi,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *