SOLO – Gelombang demonstrasi dan amuk massa yang berujung pada pembakaran fasilitas publik di Solo memicu reaksi dari para aktivis. Puluhan aktivis lintas generasi di Soloraya mengadakan diskusi pada Rabu (3/9/2025) untuk mengupas tuntas akar masalah dan menyampaikan manifesto politik bertajuk “8 Jalan Perubahan Bangsa.”
Juru bicara gerakan, Prijo Wasono, menyatakan bahwa kekerasan yang terjadi bukan spontan, melainkan hasil dari akumulasi kekecewaan masyarakat. Ia menyoroti kegagalan pemerintah dalam menyelesaikan masalah rakyat, termasuk kegagalan DPR dalam menjalankan fungsinya serta peran aparat yang seringkali menjadi alat kekuasaan.
Menurut manifesto tersebut, terdapat tiga akar masalah utama yang menyebabkan krisis, yaitu:
* Kecemburuan Sosial: Kesenjangan ekstrem antara elite dan rakyat, diperparah oleh korupsi.
* Krisis Fiskal: Beban pajak dan pungutan baru yang membebani rakyat untuk menutupi utang negara.
* Kesulitan Hidup: Tingginya angka pengangguran dan PHK, serta merosotnya daya beli masyarakat.
Untuk mengatasi masalah tersebut, Aliansi Lintas Generasi Solo Raya mengajukan delapan tuntutan perubahan, antara lain:
* Hentikan Kekerasan Aparat & Tegakkan HAM: Menuntut pencopotan Kapolri dan pembebasan aktivis yang ditahan.
* Wujudkan Kedaulatan Rakyat: Mendesak DPR mengesahkan RUU Perampasan Aset.
* Ciptakan Pemerintahan Efektif & Bersih: Menyerukan perombakan kabinet dan penghentian rangkap jabatan.
* Berikan Keadilan Ekonomi: Menghapus seluruh pajak yang memberatkan rakyat miskin.
* Raih Kedaulatan Ekonomi: Menjalankan reforma agraria sejati dan mengoptimalkan BUMN.
* Penuhi Hak Dasar Rakyat: Menjamin pendidikan dan kesehatan gratis tanpa syarat.
* Jaga Keadilan Lingkungan: Melibatkan masyarakat dalam keputusan yang berdampak pada lingkungan.
* Tegakkan Hukum Tanpa Pandang Bulu: Memastikan hukum berlaku adil untuk semua.
Prijo Wasono menutup pernyataannya dengan tegas, “Manifesto ini adalah janji hidup. Rakyat tidak akan lagi tunduk pada korupsi, kekerasan, dan perusakan alam.”












