KLATEN — Lurik Prasojo, sentra kain tenun legendaris yang berdiri sejak tahun 1950 di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, kini memasuki era kepemimpinan generasi ketiga. Usaha warisan ini dikelola oleh Maharani yang telah 17 tahun memimpin hingga tumbuh menjadi penggerak ekonomi kreatif daerah.
Pemberdayaan Karyawan dan Ratusan UMKM
Dalam perkembangannya, Lurik Prasojo mampu mempekerjakan lebih dari 200 karyawan lokal. Sentra kain tenun ini juga resmi dikukuhkan sebagai holding UMKM untuk merangkul ratusan pelaku usaha kecil agar dapat tumbuh bersama.
“Kebetulan tahun lalu kami dikukuhkan menjadi holding UMKM, jadi bisa merangkul UMKM untuk tumbuh bersama. Hingga saat ini ada ratusan UMKM,” ujar Maharani pada Selasa (18/8/2026).
Inovasi Motif dan Strategi Pemasaran
Maharani menjelaskan bahwa kunci keberlanjutan usahanya terletak pada inovasi motif dan pengembangan ragam produk fashion bernilai tinggi, tanpa meninggalkan karakteristik kain tenun katun 100 persen yang halus dan nyaman dipakai.
Menariknya, selama belasan tahun memimpin, pemasaran Prasojo bertumpu pada promosi alamiah.
“Sejak saya pegang Prasojo 17 tahun lalu, marketing-nya getok tular dari mulut ke mulut. Jadi promosi yang mengena daripada kita mengiklankan,” tuturnya.
Dorong Pemerintah Sejajarkan Tenun dengan Batik
Maharani berharap pemerintah pusat dapat menerbitkan kebijakan yang menyejajarkan tenun lurik dengan batik, misalnya dalam aturan seragam kerja mingguan instansi.
“Bukan tentang menggandeng Prasojo, tetapi bagaimana pemerintah bisa membuat tenun itu sejajar dengan batik. Seandainya ini masuk ke pemerintah pusat, dampak tumbuhnya akan dirasakan perajin se-Indonesia,” tegasnya.
Di Showroom Prasojo Klaten, produk kain lurik dipasarkan dengan rentang harga mulai dari Rp 48.000 per meter hingga Rp 2,5 juta untuk jajaran produk premium.












