LTNNU Jombang Luncurkan Buku ’21 Masyayikh NU’ Sambut Muktamar ke-35

JOMBANG — Menjelang perhelatan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) PCNU Kabupaten Jombang merilis karya literasi bertajuk 21 Masyayikh NU Jombang: Article Anthology pada Selasa (18/8/2026).

Rawat Ingatan Sejarah Ulama

Ketua LTNNU PCNU Kabupaten Jombang, Syafii, menjelaskan penerbitan buku ini ditujukan sebagai ikhtiar kolektif merawat ingatan sejarah dan keteladanan ulama yang membentuk fondasi kultural NU di Kota Santri.

“Jombang memiliki sejarah panjang sebagai basis pesantren. Dari sini lahir para ulama yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga mengembangkan pendidikan, dakwah, tradisi keilmuan, serta kehidupan berbangsa,” ujar Syafii.

Rangkum Kiprah Tokoh Sentral

Buku antologi ini merangkum rekam jejak 21 ulama terkemuka Jombang dari berbagai generasi dan latar belakang pengabdian, di antaranya:

  • Pionir Pendidikan & Tarekat: KH Adlan Aly (pendiri PP Putri Walisongo Cukir), KH Musta’in Romly (pendiri UNDAR), KH As’ad Umar (pembaharu Pesantren Darul ‘Ulum), dan KH Abdus Salam (perintis Pesantren Tambakberas).

  • Tokoh Kebangsaan & Perjuangan: KH Abdul Hamid Chasbullah (A’wan HBNO 1926), KH Muhammad Wahib Wahab (Menteri Agama RI & Panglima Hizbullah), serta KH Dahlan Cholil (pemimpin Laskar Hizbullah).

  • Keilmuan & Literasi Islam: KH Ma’shum Ali (penulis kitab Amtsilah Tashrifiyah), KH Abdul Fattah Hasyim, KH Abdul Djalil Abdurrahman, dan KH M Zubaidi Muslich.

  • Ulama Modernis & Struktural: KH Salahuddin Wahid / Gus Sholah (Pengasuh Tebuireng), KH Abdul Nashir Fattah (Rais Syuriah PCNU Jombang 2007–2022), dan Dr KH Isrofil Amar MAg (Ketua PCNU Jombang dua periode).

  • Jalur Tasawuf, Kebudayaan & Akar Rumput: KH Moch Djamaluddin Ahmad, KH Abdul Mujib Adnan, KH Ahmad Baidlowi Yasin (perintis Pagar Nusa Jombang), KH Makki Ma’shum, KH Umar Faruq, Kyai Abu Sujak, serta KH Abdurrahman bin Bahri.

Penguat Ruh Pergerakan NU

Syafii menegaskan kehadiran karya ini dinilai strategis untuk mengenalkan nilai keikhlasan dan pengabdian ulama lokal kepada generasi muda Nahdliyin.

“Buku ini mengajak pembaca menengok kembali akar perjuangan NU di tingkat lokal yang turut membangun tradisi Nahdlatul Ulama secara mendasar,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *