RANDUDONGKAL — Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Randudongkal, Kabupaten Pemalang, sukses menggelar Konferensi tahunan di Pondok Pesantren Hidayatul Qur’an Randudongkal, Minggu (11/1/2026). Mengusung tema besar “Membangun Kemandirian, Membangun Peradaban,” acara ini menjadi tonggak sejarah baru bagi penguatan organisasi NU di tingkat kecamatan.
Konferensi ini bukan sekadar forum musyawarah rutin, melainkan momentum strategis bagi warga Nahdliyin Randudongkal untuk memperkuat kemandirian organisasi dan kontribusi nyata dalam membangun peradaban berbasis nilai Ahlussunnah wal Jama’ah.
Khidmat dan Semarak dengan Penampilan Santri
Suasana pra-acara berlangsung sangat khidmat. Penampilan nasyid dari santriwati Pondok Pesantren Hidayatul Qur’an memberikan nuansa religius yang kental, sekaligus membakar semangat kebersamaan para peserta yang hadir.
Konferensi dihadiri oleh seluruh perwakilan pengurus ranting NU se-Kecamatan Randudongkal. Kehadiran para delegasi dari setiap desa ini menegaskan soliditas dan persatuan yang kuat di tubuh MWCNU Randudongkal.
Hasil Sidang Pleno: Duet Kiai Fathul Munir dan Ust. Kukuh Purwanto
Puncak acara ditandai dengan pelaksanaan sidang pleno pemilihan jajaran pimpinan tertinggi MWCNU Randudongkal untuk masa khidmat 2026–2031. Berdasarkan hasil musyawarah mufakat, berikut adalah susunan pimpinan terpilih:
-
Rois Syuriah: K.H. M. Fathul Munir
-
Ketua Tanfidziyah: Ust. Kukuh Purwanto
Penetapan jajaran Syuriah dan Tanfidziyah ini disambut baik oleh para jamaah, mengingat keduanya merupakan sosok yang dinilai mampu mengayomi serta memiliki visi kuat dalam pengembangan potensi umat.
Membangun Kemandirian Organisasi
Dengan terpilihnya kepengurusan baru ini, MWCNU Randudongkal diharapkan dapat segera bergerak cepat dalam mengelola potensi ekonomi dan sosial keumatan. Fokus utama kepengurusan periode ini adalah mewujudkan kemandirian organisasi agar NU menjadi garda terdepan dalam membangun peradaban yang berkeadilan dan berkemajuan di wilayah Randudongkal.
Harapan besar digantungkan kepada duet kepemimpinan ini untuk membawa MWCNU Randudongkal lebih profesional, modern, namun tetap menjaga tradisi pesantren yang menjadi ciri khas Nahdlatul Ulama.













