PYONGYANG — Estafet kepemimpinan di negara bersenjata nuklir, Korea Utara, kembali dikukuhkan. Badan legislatif tertinggi Korea Utara secara resmi memilih kembali Kim Jong Un sebagai presiden, memperkuat posisinya sebagai pemegang kendali kebijakan sekaligus pemerintahan tertinggi negara melalui Komisi Urusan Negara.
Media pemerintah, Korean Central News Agency (KCNA), mengumumkan bahwa pengangkatan kembali ini merupakan bentuk kepercayaan penuh rakyat terhadap kepemimpinan Kim.
Angka Partisipasi dan Dukungan yang Fantastis
Proses pemilihan para anggota parlemen baru ini mencatatkan angka yang sangat kontras jika dibandingkan dengan sistem demokrasi pada umumnya. Berdasarkan laporan resmi KCNA, tingkat partisipasi pemilih mencapai 99,99%.
Dari total suara yang masuk, sebanyak 99,93% dinyatakan mendukung kepemimpinan Kim Jong Un, sementara hanya 0,07% yang memberikan suara menentang. Angka ini sering kali dijadikan oleh pemerintah setempat sebagai simbol kesolidan nasional dan dukungan rakyat yang tak tergoyahkan.
Legitimasi Formal di Balik Kritik Internasional
Meski pemerintah Korea Utara merayakan hasil tersebut sebagai kemenangan besar, para pengamat politik internasional dan kritikus memberikan penilaian berbeda. Proses pemilu di Korea Utara dinilai telah ditentukan sebelumnya (pre-determined) dan tidak memberikan ruang bagi oposisi yang nyata.
Pemilu tersebut dianggap lebih bertujuan untuk memberikan legitimasi formal di mata domestik dan hukum internasional terhadap kekuasaan yang sudah eksis, ketimbang sebagai ajang kompetisi politik yang terbuka.
Dinasti Kim: Kekuasaan Generasi Ketiga
Kim Jong Un merupakan penguasa generasi ketiga dari dinasti Kim yang mendirikan negara tersebut pada tahun 1948 melalui kakeknya, Kim Il Sung. Setelah kematian ayahnya, Kim Jong Il, pada tahun 2011, Kim Jong Un langsung mengambil alih tonggak kepemimpinan.
Sejak saat itu, ia terus memperkuat pengaruhnya, baik melalui konsolidasi politik di dalam negeri maupun melalui pengembangan program senjata nuklir dan rudal balistik yang sering kali memicu ketegangan di kawasan semenanjung Korea dan panggung global.












