Sejumlah awak media di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) mendatangi kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) TTS untuk meminta klarifikasi terkait pengusiran wartawan saat meliput kegiatan debat pertama Pilkada di GOR Nekmese TTS Jumat, 25 Oktober lalu. Para awak media ini langsung diterima oleh Ketua KPU dan jajarannya.
Ketua KPU Andy Funu kepada para wartawan mengakui bahwa saat itu dirinya cukup sibuk dari awal hingga berakhirnya acara debat Paslon Pilkada sehingga dirinya tidak mengetahui kejadian yang menimpa sejumlah wartawan yang terjadi di dalam ruangan debat.
“Waktu itu kita memang cukup sibuk jadi saya tidak sempat perhatikan teman-teman. Setelah kegiatan itu kami memang foto-foto untuk pelaporan. Dan setelah semua beres baru saya dengan pak sekretaris keluar untuk bertemu teman-teman tapi sudah tidak ada orang,” jelas Andy.
Untuk itu Ketua KPU langsung meminta maaf kepada seluruh wartawan di ruang pertemuan KPU pada hari Rabu, 30/10.
“Atas nama pribadi dan semua jajaran KPU saya minta maaf kepada teman-teman wartawan semua untuk kejadian yang terjadi, sehingga membuat hubungan di antara kita renggang selama beberapa saat ini,” ujarnya.
Menanggapi permintaan maaf dari Ketua KPU, semua wartawan yang berada di TTS bersepakat untuk menghentikan/mencabut boikot pemberitaan KPU.
“Jujur kami sangat kecewa sampai mengumumkan boikot pemberitaan. Tapi jika pihak KPU sudah mengakui dan meminta maaf, maka tentu kami maafkan. Karena kita juga masih perlu membangun kolaborasi untuk kebaikan daerah ini, tapi kami berharap ini menjadi evaluasi untuk kedepannya tidak terjadi hal seperti ini lagi,” ujar Sekretaris Forwan, Paul Papa Resi.
Hal senada juga diucapkan Ketua SMSI TTS, Lefinus Asbanu. Mereka dengan lapang dada menerima permintaan maaf dan mencabut boikot terhadap KPU TTS dengan catatan tidak akan terjadi lagi tindakan diskriminasi terhadap wartawan.
“Tentu sebagai manusia yang beriman kami menerima permintaan maaf dari pihak KPU dengan lapang dada tapi menjadi catatan bagi kita semua untuk kedepannya lebih saling menghargai sehingga tidak terjadi lagi tindakan diskriminatif terhadap kami pekerja pers,” tutupnya.













