TEHERAN / FLORIDA — Eskalasi ketegangan antara Iran dengan aliansi Amerika Serikat dan Israel mencapai titik didih tertinggi. Pemerintah Iran secara resmi menutup pintu diplomasi dengan Washington dan menyatakan kesiapan penuh untuk meluncurkan gelombang serangan rudal balasan yang lebih masif.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa pengalaman masa lalu membuktikan dialog dengan AS hanya berujung pada pengkhianatan. Ia merujuk pada serangan AS pada 28 Februari lalu yang terjadi justru saat proses negosiasi diklaim tengah menunjukkan kemajuan.
Iran: “Kami Tidak Mencari Gencatan Senjata”
Dalam wawancara dengan PBS News, Selasa (10/3/2026), Araghchi menyatakan Teheran tidak lagi memiliki agenda perundingan. “Tembakan masih berlanjut, dan kami sangat siap untuk terus menyerang mereka dengan rudal selama diperlukan,” tegasnya.
Senada dengan Araghchi, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, melalui akun X miliknya menegaskan bahwa satu-satunya cara menghentikan agresi adalah dengan kekuatan militer.
“Kami sama sekali tidak mencari gencatan senjata. Agresor harus dipukul agar mendapat pelajaran dan tidak pernah lagi berpikir menyerang Iran,” tulis Qalibaf.
Trump: Selat Hormuz Adalah Garis Merah
Di pihak lawan, Presiden AS Donald Trump menunjukkan sikap agresif dari Florida. Meskipun menyebut operasi militer AS sebagai “ekspedisi jangka pendek” untuk menenangkan pasar keuangan, Trump mengeluarkan peringatan keras terkait ancaman blokade Selat Hormuz oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Melalui platform Truth Social, Trump mengancam akan membumihanguskan kekuatan Iran jika jalur pasokan minyak dunia tersebut terganggu.
“Jika Iran melakukan apa pun yang menghentikan aliran minyak di Selat Hormuz, mereka akan dipukul oleh Amerika Serikat dua puluh kali lipat lebih keras dari sebelumnya!” tulis Trump.
Dunia Terancam Krisis Energi: Minyak Tembus 100 Dolar AS
Konflik ini mulai memukul ekonomi global secara nyata. Harga minyak dunia telah melonjak hingga menembus angka 100 dolar AS per barel. CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, melaporkan adanya pengalihan besar-besaran jalur kapal tanker untuk menghindari area konflik.
Fakta Kunci Dampak Global:
-
Pasokan Minyak: Selat Hormuz mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak global.
-
Logistik: Arab Saudi mulai memaksimalkan jalur pipa Timur-Barat menuju Laut Merah (kapasitas 7 juta barel/hari), namun volume minyak yang tertahan masih terlalu besar.
-
Risiko: Lonjakan harga bensin dan avtur secara global yang dapat memicu inflasi ekstrem jika konflik berlarut.
Di dalam negeri Iran, dukungan publik terhadap Ayatollah Mojtaba Khamenei semakin menguat. Di media sosial, slogan “Selama bulan Ramadan, kami tidak berbicara dengan setan” viral di kalangan warga, mencerminkan kebuntuan komunikasi total antara Teheran dan Washington.












