Dunia Memasuki Era Tanpa Rem: Perjanjian Nuklir New START Resmi Berakhir, Ancaman Perang Global Meningkat

MOSKOW / WASHINGTON — Keamanan global kini berada di titik nadir. Perjanjian pengendalian senjata nuklir terakhir antara Rusia dan Amerika Serikat (AS), New START, resmi dinyatakan berakhir pada Rabu, 4 Februari 2026. Peristiwa ini menandai sejarah kelam bagi diplomasi dunia; untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, dua raksasa nuklir dunia tak lagi terikat batasan jumlah hulu ledak.

Situasi ini memicu gelombang kekhawatiran internasional akan potensi perlombaan senjata nuklir baru yang jauh lebih masif dan tak terkendali.

Peringatan Keras Dmitry Medvedev: “Jam Kiamat Berdetak Lebih Cepat”

Pejabat keamanan senior Rusia sekaligus mantan Presiden, Dmitry Medvedev, memperingatkan bahwa runtuhnya New START dapat mempercepat mekanisme “Jam Kiamat” (Doomsday Clock). Simbol ini merepresentasikan seberapa dekat umat manusia dengan kehancuran global.

“Saya tidak ingin mengatakan ini otomatis berarti bencana, tetapi kondisi ini seharusnya membuat semua orang merasa sangat khawatir,” ujar Medvedev sebagaimana dikutip dari Reuters, Kamis (5/2/2026).

Gugurnya Batasan Hulu Ledak Nuklir

New START, yang ditandatangani pada 2010 oleh Dmitry Medvedev dan Barack Obama, sebelumnya membatasi kekuatan ofensif strategis kedua negara. Dengan berakhirnya masa berlaku perjanjian ini, batasan-batasan ketat berikut kini resmi gugur:

Kategori Senjata Batasan Sebelumnya (New START) Status Saat Ini
Hulu Ledak Nuklir Aktif Maksimal 1.550 unit Tanpa Batas
ICBM, SLBM, & Pembom Berat Maksimal 700 unit dikerahkan Tanpa Batas
Peluncur Rudal & Pesawat Pembom Maksimal 800 unit (total) Tanpa Batas

Sikap Dingin Donald Trump dan Kebuntuan Diplomasi

Di tengah ketegangan ini, Presiden AS Donald Trump menunjukkan sikap yang cenderung tidak memprioritaskan perpanjangan kontrak lama. Trump mengisyaratkan keinginan untuk membentuk kesepakatan baru yang dianggapnya lebih menguntungkan bagi kepentingan Amerika Serikat.

“Jika berakhir, ya berakhir. Kita akan membuat perjanjian yang lebih baik,” tegas Trump dalam sebuah wawancara.

Sikap tersebut direspons dingin oleh Moskow. Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, menyatakan bahwa Rusia kini siap menghadapi realitas baru tanpa batasan sama sekali. Sementara itu, keterlibatan China sebagai kekuatan nuklir ketiga dalam pembicaraan ini juga menemui jalan buntu karena Beijing enggan ikut campur dalam pakta tersebut.

Dunia kini memasuki fase paling rawan sejak era Perang Dingin—sebuah era penuh ketidakpastian tanpa aturan main yang jelas di antara pemilik senjata pemusnah massal terbesar di bumi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *