JAKARTA — Media sosial TikTok tengah dihebohkan oleh unggahan emosional Manuel Sarmanella, putra dari presenter ternama Indy Barends. Melalui akun pribadinya @manuelsaidwhat_, Manuel membagikan kegelisahannya mengenai kesehatan mental dan pola relasi antara orang tua dan anak yang dianggap mewakili perasaan banyak anak muda saat ini.
Video tersebut tidak hanya viral, tetapi juga memicu diskusi mendalam mengenai fenomena parenting yang sering kali abai terhadap suara anak.
Pesan Menohok: “Ngertiin Anakmu Selagi Dia Belum Putus Asa”
Dalam kontennya, Manuel menekankan bahwa kesehatan mental harus menjadi prioritas di atas pencapaian apa pun dalam hidup. Salah satu kalimatnya yang paling banyak dikutip netizen adalah sindiran terhadap standar ganda dalam keluarga.
“Banyak yang bilang ‘dengerin orang tuamu selagi mereka masih ada’. Kalau gitu, kenapa nggak ‘ngertiin anakmu selagi dia belum putus asa’?” tulis Manuel dalam caption videonya. Pesan ini seketika menuai empati luas karena dianggap menyentil sisi sensitif hubungan keluarga di Indonesia.
Respons Indy Barends dan “Ruang Dialog” yang Buntu
Kejutan terjadi di kolom komentar saat Indy Barends memberikan dukungan manis kepada putranya. “Manuel.. mama selalu ada buat kamu,” tulis Indy. Namun, balasan Manuel justru membuka tabir permasalahan yang lebih dalam.
Manuel mempertanyakan mengapa komunikasi dengan orang tua sering kali terasa menakutkan bagi seorang anak. Ia merasa pendapat dan rencana pribadinya kerap tidak didengar dan justru dipaksa mengikuti kehendak orang tua.
“Pendapat dan plan aku suka nggak didengerin, suka terlalu dipaksa. Anak selalu dianggap salah,” tulis Manuel.
Menurutnya, kondisi inilah yang membuat banyak anak memilih untuk menarik diri guna melindungi kesehatan mental mereka karena tidak adanya ruang dialog yang sehat dan nyaman.
Representasi Generasi Muda yang Tertekan Ekspektasi
Unggahan Manuel memicu gelombang komentar dari warganet yang mengaku merasakan tekanan serupa. Banyak yang menilai bahwa kesadaran akan kesehatan mental di kalangan Gen Z sering kali berbenturan dengan gaya pengasuhan konservatif yang mengedepankan otoritas orang tua tanpa diskusi.
Kasus ini menjadi pengingat penting bagi para orang tua untuk lebih membuka diri dan memberikan ruang bagi anak untuk berekspresi, demi mencegah dampak psikologis yang lebih serius di masa depan.












