JAKARTA – Ancaman radikalisasi melalui ruang digital dinilai semakin mengkhawatirkan. Media sosial, algoritma platform digital, hingga gim daring kini disebut menjadi sarana penyebaran propaganda yang menyasar anak-anak dan generasi muda.
Fenomena tersebut menjadi pembahasan dalam diskusi buku ‘Atas Nama Surga: Algoritma Radikalisasi hingga Manipulasi Kesadaran’ karya Direktur Jenderal Pengawasan Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Alexander Sabar, di Menara Kompas, Jakarta, Rabu (29/7/2026).
Buku tersebut merupakan pengembangan dari hasil riset disertasi Alexander yang mengkaji fenomena radikalisasi digital di Indonesia sepanjang 2020-2024.
Radikalisasi Bermula dari Ruang Digital
Dalam pemaparannya, Alexander mengatakan proses radikalisasi saat ini tidak lagi hanya dilakukan melalui pertemuan langsung. Perkembangan teknologi membuat penyebaran ideologi ekstrem semakin mudah dilakukan melalui berbagai platform digital.
Menurutnya, algoritma media sosial dapat memperkuat paparan konten yang memiliki tema serupa sehingga pengguna terus menerima informasi yang sejalan dengan minatnya, termasuk narasi yang mengandung propaganda ekstrem.
“Radikalisasi kini banyak bermula dari ruang digital. Karena itu masyarakat perlu memahami bagaimana algoritma bekerja agar tidak mudah terpapar konten yang bersifat manipulatif,” ujarnya.
Hadirkan Sejumlah Narasumber
Diskusi buku tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai bidang. Mereka antara lain Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri Kombes Mayndra Eka Wardhana, Plt Sekretaris Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Ratna Susianawati, dosen Kriminologi FISIP Universitas Indonesia Kisnu Widagso, serta jurnalis senior Harian Kompas Sarie Febrianne.
Kegiatan itu juga dihadiri Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid serta Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Eddy Hartono.
Literasi Digital Jadi Kunci
Dalam diskusi tersebut, para narasumber sepakat bahwa pencegahan radikalisme digital tidak dapat dibebankan kepada pemerintah semata. Diperlukan kolaborasi antara aparat penegak hukum, lembaga pendidikan, keluarga, media, dan masyarakat untuk meningkatkan literasi digital.
Alexander berharap buku ‘Atas Nama Surga: Algoritma Radikalisasi hingga Manipulasi Kesadaran’ dapat menjadi referensi bagi masyarakat dalam memahami cara kerja algoritma digital yang dimanfaatkan kelompok radikal untuk menyebarkan propaganda.
Menurutnya, kemampuan berpikir kritis menjadi bekal penting agar masyarakat, khususnya generasi muda, tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang beredar di media sosial maupun platform digital lainnya.
Ia berharap meningkatnya literasi digital dapat menciptakan ruang siber yang lebih sehat sekaligus menekan penyebaran paham ekstrem di Indonesia.












