Kisah Bagus Budi Laksono, Sarjana UIN Gus Dur yang Selesaikan Skripsi Bermodal Smartphone

PEKALONGAN — Gelar sarjana bukanlah milik mereka yang memiliki fasilitas mewah, melainkan milik mereka yang memiliki mental baja. Kalimat ini layak disematkan kepada Bagus Budi Laksono, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Pekalongan yang baru saja menyelesaikan studinya dengan perjuangan luar biasa.

Di tengah tren perangkat teknologi mutakhir, Bagus membuktikan bahwa keterbatasan alat bukan penghalang untuk meraih mimpi. Ia berhasil menuntaskan 127 halaman skripsi berjudul “Etika Bermedia Sosial” hanya dengan mengandalkan sebuah smartphone.

Perjuangan di Balik Layar HP: Sembilan Bulan Penuh Kesabaran

Menyelesaikan penelitian akademis di layar ponsel bukanlah perkara mudah. Bagus harus bergelut dengan keterbatasan spesifikasi perangkat; mulai dari layar yang harus terus-menerus di-zoom in dan zoom out, aplikasi yang sering kali melambat (lemot), hingga papan ketik virtual yang tidak seresponsif komputer.

Selama sembilan bulan, Bagus tekun mengetik kata demi kata. Kendala teknis seperti gangguan sinyal dan kuota internet yang terbatas ia siasati dengan cara menumpang WiFi di Balaidesa dekat rumahnya.

Anak Buruh Proyek yang Enggan Membebani Orang Tua

Latar belakang ekonomi keluarga menjadi pelecut semangat bagi Bagus. Sebagai anak dari seorang buruh proyek dengan penghasilan tak menentu, ia sadar betul bahwa meminta laptop mahal adalah beban yang tak ingin ia berikan kepada orang tuanya.

Bagus bahkan sempat terjun langsung bekerja kasar di proyek drainase. Pengalaman tersebut ia ambil untuk memahami arti mencari nafkah, sekaligus memperkuat tekadnya untuk mengubah nasib keluarga melalui jalur pendidikan.

Uang Bensin Rp15.000 yang Berarti Besar

Jarak rumah yang jauh dari kampus menjadi tantangan tersendiri. Bagi sebagian orang, uang bensin sebesar Rp15.000 mungkin terasa kecil, namun bagi Bagus, nominal tersebut sangat berarti. Keterbatasan biaya transportasi ini pula yang membuatnya jarang bisa mengunjungi perpustakaan kampus dan lebih banyak mengandalkan literatur digital yang diakses melalui ponselnya.

Tamparan Keras Bagi yang Sering Mengeluh

Kisah Bagus Budi Laksono kini menjadi viral dan menjadi tamparan keras bagi siapapun yang sering mengeluh soal alat kerja atau fasilitas yang kurang canggih. Keberhasilannya berdiri tegap sebagai sarjana adalah bukti nyata bahwa dedikasi dan konsistensi mampu mengalahkan keterbatasan materi.

Kini, Bagus telah resmi menyandang gelar Sarjana. Perjuangannya memberikan pesan kuat bagi generasi muda: “Fasilitas mungkin terbatas, tapi mimpi harus tetap luas.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *