KLATEN — Momentum menyambut bulan suci Ramadhan 1447 H di Kabupaten Klaten dirayakan dengan penuh antusiasme melalui tradisi Padusan. Pada Selasa (17/2/2026), ribuan warga memadati berbagai objek wisata air atau umbul untuk melakukan ritual mandi besar sebagai simbol penyucian diri lahir dan batin sebelum menjalankan ibadah puasa.
Berdasarkan pantauan di sejumlah umbul yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), pengunjung mulai membanjiri lokasi sejak pukul 09.00 WIB. Beberapa titik favorit di antaranya adalah Umbul Pluneng, Umbul Brintik, Umbul Bethek, dan Umbul Brondong.
Optimalisasi Fasilitas dan Hiburan Live Musik
Direktur BUMDes Desa Pluneng, Agus, menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan persiapan matang untuk menjamin kenyamanan dan keamanan pengunjung pada event tahunan ini. Penataan warung kuliner serta kebersihan kolam menjadi prioritas utama pengelola.
“Prinsipnya kami menambah kenyamanan pengunjung. Warung-warung ditata lebih rapi dan kami sediakan hiburan live musik mulai dari aliran Pop, Akustik, hingga Dangdut dari pagi hingga sore hari,” ujar Agus saat ditemui di lokasi.
Selain hiburan musik, pengelola Umbul Pluneng juga mengoptimalkan fasilitas permainan anak. “Khusus hari ini, fasilitas mandi salju untuk anak-anak kami operasikan secara penuh sepanjang hari untuk memeriahkan suasana,” tambahnya.
Lonjakan Pengunjung dan Penyesuaian Harga Tiket
Lonjakan jumlah pengunjung pada hari Padusan tergolong sangat signifikan dibandingkan hari biasa. Agus memperkirakan sebanyak 5.000 pengunjung memadati Umbul Pluneng dalam satu hari ini saja.
“Pada hari biasa, jumlah pengunjung berkisar antara 400 hingga 1.000 orang. Namun, saat tradisi Padusan, angka kunjungan melonjak tajam ke kisaran 4.000 hingga 5.000 pengunjung,” jelas Agus.
Tingginya permintaan ini juga diikuti dengan penyesuaian harga tiket masuk. Rata-rata objek wisata umbul di Klaten mengalami kenaikan harga tiket sekitar Rp2.000, sebuah angka yang dinilai masih sangat terjangkau bagi masyarakat luas.
Melestarikan Budaya Lokal Klaten
Tradisi Padusan di Klaten menjadi bukti nyata bahwa masyarakat masih memegang teguh kearifan lokal dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Keberadaan umbul-umbul alami yang dikelola dengan profesional tidak hanya menjadi tempat ritual, tetapi juga penggerak ekonomi desa melalui sektor pariwisata.
Diharapkan dengan fasilitas yang semakin memadai, tradisi Padusan tetap lestari dan terus menjadi daya tarik wisata religi dan budaya yang membanggakan bagi Kabupaten Klaten di masa depan.













