Bak Ruang Sidang, Resepsi Pernikahan di Hotel Luminor Purwokerto Ini Viral Usai Usung Konsep ‘Sidang Terbuka’

PURWOKERTO — Suasana berbeda tampak dalam sebuah resepsi pernikahan yang digelar di Ballroom Hotel Luminor Purwokerto, Banyumas, hari ini. Alih-alih menggunakan dekorasi adat nan elegan atau tema floral yang khidmat, para tamu undangan justru disuguhkan pemandangan layaknya sebuah ruang pengadilan.

Pasangan pengantin muda, Oryz Amaldha dan Farashdhizkha Citra Luthfiani, sepakat menyulap hari bahagia mereka menjadi sebuah “Sidang Terbuka” yang unik dan berkesan bagi keluarga serta para tamu.

Detail Dekorasi: Meja Hakim Hingga Palu Sidang

Sejak pukul 08.00 WIB, transformasi Ballroom Hotel Luminor mengundang decak kagum. Di panggung utama, tersusun rapi meja hakim lengkap dengan palu sidang dan papan penanda bertuliskan “Hakim Ketua” dengan latar belakang kain hijau yang khas.

Seluruh prosesi sakral dikemas sedemikian rupa dengan terminologi hukum, seolah-olah ikatan janji suci kedua mempelai merupakan keputusan inkrah dalam sebuah persidangan yang disaksikan oleh para “saksi” (tamu undangan).

Tetap Mengedepankan Nilai Sakral

Meskipun mengusung konsep yang sangat tidak biasa dan terkesan formal-edukatif, esensi dari sebuah pernikahan tidak ditinggalkan. Perwakilan pihak keluarga, Djoko Susanto, menegaskan bahwa pemilihan tema ini tidak mengurangi kesakralan prosesi akad nikah itu sendiri.

“Meskipun dikemas berbeda layaknya sidang terbuka, nilai sakral pernikahan tetap menjadi prioritas utama. Ini adalah cara pasangan mengekspresikan jati diri mereka tanpa menghilangkan esensi ibadah dalam pernikahan,” jelas Djoko.

Inspirasi Bagi Pasangan Muda

Konsep pernikahan “Sidang Terbuka” di Purwokerto ini pun segera menjadi buah bibir masyarakat. Banyak yang menilai tema ini sangat cocok bagi pasangan yang memiliki latar belakang pendidikan hukum atau mereka yang menginginkan kesan mendalam yang berbeda dari biasanya.

Pernikahan Oryz dan Citra membuktikan bahwa kreativitas dalam dekorasi pernikahan tidak terbatas pada estetika visual semata, namun juga bisa menyentuh aspek konseptual yang unik namun tetap menyentuh hati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *