TANGERANG SELATAN — Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) kembali menjadi pusat perhatian publik terkait alokasi anggaran belanja daerah. Pemkot Tangsel diketahui mengalokasikan anggaran jumbo mencapai Rp1 miliar untuk pengadaan sarung merek premium, BHS Classic, pada Tahun Anggaran 2025.
Meski memasuki Tahun Anggaran 2026 nominalnya disebut mengalami penyusutan karena efisiensi, pengadaan suvenir mewah ini tetap menjadi bahan diskusi hangat di tengah masyarakat terkait skala prioritas belanja daerah.
Alasan Pengadaan: Penghormatan dalam Safari Ramadan
Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Tangsel, Rizkiyah, membenarkan adanya pengadaan tersebut. Ia menjelaskan bahwa sarung tersebut difungsikan sebagai cenderamata resmi dalam rangkaian kegiatan Safari Ramadan yang rutin digelar oleh pimpinan daerah.
“Dalam kegiatan Safari Ramadan, kita bertemu dengan para tokoh masyarakat dan pemuka agama. Rasanya kurang elok jika tidak ada yang diberikan sebagai bentuk penghormatan. Jadi ini bagian dari safari pimpinan,” ujar Rizkiyah saat ditemui di Serpong, Rabu (13/2/2026).
Rizkiyah menambahkan bahwa untuk tahun 2026, jumlah pengadaan telah dikurangi secara signifikan. “Tahun ini tetap ada, tapi tidak banyak. Sekitar seperempat dari tahun lalu karena banyak efisiensi,” imbuhnya.
Total Paket Fasilitasi Mencapai Rp2 Miliar
Berdasarkan data yang dihimpun dari laman e-katalog Pemkot Tangsel, pengadaan sarung BHS ini ternyata masuk ke dalam satu paket besar fasilitasi Safari Ramadan. Paket tersebut mencakup:
-
Pengadaan sarung merek premium.
-
Pengadaan mukena.
-
Suvenir pendukung lainnya.
Total nilai anggaran dalam paket fasilitasi tersebut tercatat mencapai Rp2.025.000.000 (Rp2 miliar lebih). Proses pembelian diklaim telah sesuai dengan prosedur melalui sistem e-katalog nasional.
Sorotan Publik Terhadap Efisiensi Anggaran
Hingga berita ini diterbitkan, Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie, belum memberikan tanggapan resmi terkait sorotan anggaran suvenir tersebut. Upaya konfirmasi melalui pesan singkat belum mendapatkan balasan.
Isu ini memicu kritik dari berbagai kalangan yang menilai anggaran miliaran rupiah untuk suvenir sarung dan mukena dianggap terlalu fantastis. Publik berharap pemerintah daerah lebih mengedepankan efisiensi anggaran pada program-program yang bersentuhan langsung dengan pelayanan dasar masyarakat di tengah kondisi ekonomi saat ini.












