Sidoarjo – Gereja yang berdiri megah di Kawasan Tropodo ini merupakan salah satu gereja yang pendiriannya penuh dengan cerita perjuangan. Gereja yang berdiri di atas tanah seluas 1.176 m2 ini adalah Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Tropodo, gereja yang pendiriannya memerlukan waktu yang sangat panjang dan penuh dengan dinamika.
Pada hari Minggu tanggal 20 Oktober 2024 pukul 17.00 WIB GKJW Tropodo melaksakan Ibadah Pelantikan Pendeta Baku, sesuai dengan Keputusan Sidang Majelis Agung GKJW ke-122. GKJW Tropodo akan mendapatkan pendeta baru untuk memimpin jemaat.
Pendeta baku yang baru dan yang dilantik adalah Pendeta Tri Kridhaningsih, S.Si.Teol., Pendeta Ridha akan meneruskan tugas pendeta yang dipindah tugaskan juga dan akan mulai bertugas sejak tanggal pelantikan ditetapkan.
Pendeta Ridha dimutasi dari GKJW Jemaat Bongsorejo (Majelis Daerah Jombang SB) menuju GKJW Jemaat Tropodo (Majelis Daerah Surabaya Timur 1).
Dalam khotbah sulungnya di GKJW Tropodo Pendeta Ridha mengambil bacaan dari kitab 2 Korintus 4:7, dengan diberi tema “Andalkan Tuhan dalam Jiwa Kita”.
“GKJW Tropodo ada karena campur tangan Tuhan sendiri, kita harus bisa menjaga harta yang berharga ini dan bisa memeliharanya dengan baik. Semua mulai dari anak-anak sampai dengan yang sudah adisyuswo, karena siapa lagi kalau bukan kita yang merawatnya bersama. Dan andalkan Tuhan dalam setiap perkara yang kita hadapi bersama dan jangan mengandalkan kekuatan diri kita sendiri,” jelasnya.

Ibadah pelantikan pendeta baku ini dihadiri oleh beberapa tokoh FKUB Kabupaten Sidoarjo dan juga beberapa tokoh lainnya, para rekan sekerja dalam pembangunan gedung gereja, para pendeta lingkup MD Surabaya Timur 1, Forkopimcam Waru, aparat dari Polsek Waru, para undangan dari gereja-gereja sekitar, warga gereja GKJW Bongsorejo, dan warga gereja GKJW Tropodo.
Banyak penampilan yang disajikan dalam Ibadah Pelantikan Pendeta Ridha, mulai dari tarian pembuka, paduan suara, dan yang menarik ada pagelaran wayang kulit yang dimainkan oleh dalang cilik Krisna Elsapadtra Sukma yang merupakan putra dari Pendeta Ridha.
Gereja GKJW Tropodo ini memiliki kisah tersendiri bagi warga jemaat Tropodo. Menurut cerita dari beberapa warga Tropodo, untuk bisa memiliki gedung yang tetap dan seindah sekarang ini warga berjuang selama kurang lebih 40 tahun, dengan dulunya beribadah harus berpindah-pindah dan menghadapi banjir bila musim penghujan tiba.
Sesuai dengan khotbah yang disampaikan Pendeta Ridha di ibadah, tanpa ada campur tangan dari Tuhan, jemaat Tropodo serasa tidak mungkin untuk membangun gedung yang megah dengan segala upaya yang dilakukan bersama-sama warga gereja dan dengan kuasa tangan Tuhan mengiring langkah maka gedung gereja GKJW Tropodo berhasil dibangun dengan megah dan indah. Tentu saja campur tangan dari semua pihak terutama pihak donatur baik dari dalam maupun dari luar juga merupakan sumbangsih terbesar untuk terwujudnya Gereja Mujizat ini.

















