Jombang, 7 Juli 2024 – Umat Kristen Bongsorejo Diwek Jombang memperingati 126 tahun berdirinya Gereja GKJW Bongsorejo dengan mengupas sejarah kekristenan dan perkembangannya sebagai monumen dan usaha dokumentasi perjalanan penyebaran agama Kristen di Kabupaten Jombang.
Pendokumentasian sejarah perjalanan pasti berangkat dari monumen yang ada di sebuah wilayah tempat peradaban dan keberadaan akan pencarian tersebut. Bongsorejo, sebuah Dusun yang ada di Desa Grogol Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Kampung kristen kecil yang sarat sejarah dalam perkembangan kekristenan.

Sebelum acara “Ngobrol Santai Tentang Sejarah” dimulai, jurnalis salamolahraga.com menyempatkan hadir di acara bancak’an atau selametan yang diadakan oleh tetua Dusun Bongsorejo di komplek Pemakaman Panembahan Raden Nganten Trisijah Dalimah Klaswirosastro yang merupakan orangtua dari pendiri Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) yang juga pembuka lahan untuk pendudukan Bongsorejo.

Menurut Mbah Sumardi Susanto, cucu dari anak angkat dari pemelihara makam keluarga Klas mengutarakan bahwa makam ini sudah ada setelah Bongsorejo ini ditetapkan sebagai wilayah Dusun, jadi cerita kakeknya yang menebang hutan (alas = jawa) Gondek adalah putra pertama Klas Dalimah yang bernama Klaswaridin dan supaya tidak tumbuh atau kembali menjadi hutan lagi maka ditempati sebagai kampung atau kependudukan dengan didirikan sebuah gereja kecil (synagogue).

“Gereja itu sebuah pertanda bahwa di Bongsorejo ada pemukiman penduduk kristen, yang diresmikan oleh izin pemerintahan Belanda pada tahun 1898. Yang tiga atau empat tahun kemudian berdirilah Pondok Pesantren di sekitaran wilayah tersebut,” ujar seorang kakek yang tergolong generasi baru dari sesepuh Bongorejo.

Dalam diskusi sejarah GKJW yang diselenggarakan oleh Kapanditan Bongsorejo, salah satu narasumber, Wiryo Widianto, menerangkan bahwa di depan Gereja itu adalah balai pertemuan yang kemudian digunakan sebagai Sekolah Rakyat. Bangunan itu masih utuh dan terjaga dengan baik saat ini.

Kemudian nama Bongorejo sendiri, berasal dari harapan pemerintah Belanda kepada Klaswaridin saat mendirikan gereja untuk terciptanya masyarakat (Bongso) yang tertata dan makmur (Rejo).

Pesan dari Pendeta Tri Krisdaningsih yaitu jangan sampai tanah di Bongsorejo ini dijual ke masyarakat dari luar Bongsorejo demi terjaganya nilai – nilai sejarah yang ada dan keutuhan historis yang diwariskan oleh Klas Waridin yang makamnya ada di makam umum kristen di luar dusun. Selain itu juga demi terjaganya hubungan dinamis dan harmonis dengan pondok pesantren yang ada di sekitaran Bongsorejo, seperti Al Urwatul Wustqo Bulurejo, At Taufiq Bogem, dan Pondok Pesantren Tebuireng.












