Tugu Perbatasan Sukabumi Tuai Keluhan Pencahayaan, Pemkot Jelaskan Aspek Visual dan Desain Lama

SUKABUMI – Tugu batas antara Kota dan Kabupaten Sukabumi yang baru diresmikan pada Rabu (3/12/2025) menuai beragam reaksi dari masyarakat, terutama terkait sistem pencahayaan yang dinilai mengganggu kenyamanan visual. Tugu yang memiliki tinggi 8,5 meter dan bentangan 24 meter ini dibangun dengan Anggaran Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp1,9 miliar.

Keluhan tersebut terekam dalam sebuah video yang beredar di media sosial, di mana warga menuding pencahayaan tugu yang didominasi warna-warni membuat penglihatan terganggu dan pusing.

“Pak, ini teh bikin pusing ke mata, Pak. Penglihatannya jadi ungu, enggak enak di mata. Lebih bagus kalau dikasih lampu di tengah-tengahnya warna putih, sepertinya tidak akan pusing ke mata (silau) begitu,” keluh seorang pria dalam unggahan tersebut.

Klarifikasi DPUTR: Masalah pada Sudut Pandang Pengendara

Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kota Sukabumi, Sony Hermanto, membantah tudingan warna ungu, menjelaskan bahwa lampu yang dipasang berwarna biru. Ia menegaskan bahwa masalah silau yang dirasakan sangat bergantung pada sudut pandang dan kebiasaan pengendara.

“Seolah-olah lampu yang dipasang berwarna ungu, padahal itu biru. Kita jangan melihat lampu atuh, biasa saja jalan. Ketika kita uji coba, ketika mengendara itu kita fokus saja di jalan, biasa saja enggak ada silaunya, secara logika gitu saja,” ujar Sony, Rabu (3/12/2025).

Sony menambahkan, masalah silau muncul hanya jika seseorang sengaja menatap sumber cahaya secara terus-menerus, sama halnya dengan menatap lampu LED di rumah. Ia menekankan, secara uji coba normal, tidak ada masalah bagi pengendara yang fokus pada jalan.

Tanggapan Wali Kota: Menjalankan Desain Lama

Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki, turut menanggapi kontroversi pencahayaan ini. Beliau mengungkapkan bahwa desain tugu yang menggunakan filosofi “Pakujajar” tersebut merupakan desain lama yang baru terealisasi tahun ini. Perubahan mendadak terhadap desain yang sudah direncanakan pun sulit dilakukan karena memerlukan perencanaan dan biaya tambahan.

“Kita kan jalani dulu saja, karena kan ada yang setuju dan kurang setuju. Kita jalanin saja seperti apa, nggak mungkin tiba-tiba gara-gara satu dua orang kurang setuju tiba-tiba kita langsung diganti, kan perlu biaya, perlu perencanaan. Karena desainnya ini ya sudah kita jalani dulu dan desain ini bukan desain 2025, itu desain sekitar 7 atau 8 tahun yang lalu, kita hanya menjalankan saja,” jelas Wali Kota.

Pemerintah Kota Sukabumi akan terus memantau feedback masyarakat seiring berjalannya waktu.

Penulis: DIRMAN SAPUTRAEditor: SNF

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *