SIDOARJO — Songkok hitam yang selama ini dikenal sebagai identitas nasional bangsa Indonesia, kini semakin mempertegas perannya sebagai jembatan silaturahmi antarumat beragama. Menjelang hari raya Idulfitri dan Paskah 2026, permintaan songkok khusus dengan bordir logo Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) tercatat mengalami lonjakan pesat.
Tren ini menunjukkan bahwa songkok bukan lagi milik agama tertentu, melainkan atribut budaya yang mampu menyatukan berbagai lapisan masyarakat dalam bingkai moderasi beragama.
Inovasi Busana Jemaat Kristiani
Menurut Bara, produsen songkok GKJW di Sidoarjo, penggunaan peci oleh jemaat Kristiani sebenarnya bukan hal baru, terutama bagi warga jemaat yang tinggal di pedesaan atau mereka yang sudah lanjut usia (sepuh).
“Melihat jemaat di desa-desa yang terbiasa memakai songkok saat ke gereja, kami melihat peluang untuk memproduksi songkok dengan identitas khusus. Ternyata peminatnya luar biasa, tidak hanya dari Jawa Timur, tapi sampai ke luar pulau,” jelas Bara kepada awak media, Rabu (4/2/2026).
Menjangkau Hingga Luar Jawa Timur
Kini, hampir seluruh warga jemaat GKJW di berbagai daerah telah menggunakan songkok ini sebagai kelengkapan busana saat ibadah maupun acara formal lainnya. Bara menambahkan bahwa banyak pesanan datang dari warga GKJW yang merantau ke luar daerah sebagai pengobat rindu terhadap tradisi gereja asal mereka.
Membuka Pesanan Custom untuk Gereja Lain
Melihat kesuksesan songkok GKJW, Bara kini mulai melakukan inovasi dengan menerima pesanan bordir custom untuk berbagai logo gereja dan komunitas lainnya. Hal ini dilakukan dengan misi agar songkok nasional semakin diterima luas tanpa ada rasa sungkan atau takut.
“Kami ingin gereja-gereja lain juga terbuka dengan kehadiran songkok nasional. Ini adalah simbol bangsa kita yang bisa dipakai siapa saja,” tambahnya.
Bagi jemaat atau komunitas yang ingin memesan songkok GKJW maupun songkok custom, produsen menyediakan layanan melalui WhatsApp di nomor 081252148098.















