LEMBANG, JAWA BARAT — Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menegaskan komitmennya untuk melakukan transformasi teknologi besar-besaran, yang ditandai dengan pelaksanaan Bedah Buku Teknologi Kepolisian: “Automasi dalam Dinamika Keamanan Modern” karya Wakapolri Komjen Pol Prof. Dr. Dedi Prasetyo, S.H., M.Hum., M.Si., M.M., di Gedung Utaryo Sespim Lemdiklat Polri, Kamis (11/12/2025).
Bersamaan dengan bedah buku, Polri juga menggelar Expo Pameran Teknologi Kepolisian yang menunjukkan inovasi yang sudah diimplementasikan. Kegiatan ini menandakan bahwa reformasi teknologi adalah kebutuhan mendesak di tengah tantangan keamanan modern.
Wakapolri Dedi Prasetyo menegaskan bahwa teknologi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan strategis agar Polri lebih profesional dan presisi dalam melayani masyarakat.
“Polri bersama Aslog tengah menyiapkan fondasi industri keamanan nasional, agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi luar tetapi mampu memproduksi teknologi kepolisian secara mandiri,” tegas Wakapolri.
Pameran Inovasi dan Pentingnya Teknologi Prediktif
Expo teknologi yang digelar menghadirkan beragam perangkat modern yang sudah diterapkan, meliputi: drone udara untuk pemantauan, robot taktis dan robot K9 untuk pencarian, sistem komunikasi portabel anti-jammer seperti WonTech, serta platform analitik berbasis data.
Pakar rekayasa teknologi, Ir. Dr. Hendy, dalam paparannya, menekankan bahwa kepolisian dunia telah bergerak dari pendekatan reaktif menuju prediktif. Di tengah maraknya kejahatan digital, penipuan berbasis AI, dan ancaman siber, Polri harus mengembangkan teknologi prediktif berbasis data dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
Hendy juga menyoroti perlunya peta jalan 10 tahun, penguatan regulasi, perlindungan privasi, serta pembangunan SDM teknologi yang berkelanjutan.
Tantangan SDM dan Humanisme Digital
Diskusi panel menyoroti dua isu fundamental:
-
Profesionalisme Penyidik: Tingkat sertifikasi penyidik masih perlu ditingkatkan secara signifikan untuk menjamin kualitas penegakan hukum dan membangun kepercayaan publik.
-
Talenta Digital: Perlunya memperkuat talenta digital Polri dan memperluas kerja sama akademik agar Polri tidak tertinggal dari kecepatan perubahan.
Dari sisi akademisi, Prof. Dr. Kemal Nazaruddin Siregar menilai buku Wakapolri sebagai fondasi penting digital policing Indonesia. Namun, ia mengingatkan bahwa transformasi digital harus tetap menjaga sisi humanis kepolisian.
Menutup kegiatan, Wakapolri menyampaikan pesan tegas: “Ini era baru bagi Polri. Kita sedang membangun fondasi kepolisian yang modern, mandiri dalam teknologi, dan semakin dipercaya oleh masyarakat.”












