JOMBANG — Suasana di sekitar lampu merah Ceweng, Kecamatan Diwek, Jombang, tampak berbeda pada Senin (22/12/2025). Deretan kursi cukur berjajar bukan untuk mencari keuntungan komersial, melainkan menjadi panggung aksi kemanusiaan. Komunitas “Barber Life Family Jombang” menggelar bakti sosial unik bertajuk “Cukur Rambut Biaya Suka-Suka” untuk membantu korban banjir bandang di Sumatera.
Aksi ini menarik perhatian ratusan pengguna jalan dan warga sekitar yang ingin merapikan penampilan sekaligus berdonasi bagi saudara-saudara yang tertimpa musibah di pulau seberang.
Solidaritas dari Atas Kursi Cukur
Dalam kegiatan ini, masyarakat bebas menentukan sendiri nominal pembayaran jasa pangkas rambut yang mereka terima. Tidak ada tarif flat, hanya ada keikhlasan yang nantinya akan dikonversi menjadi bantuan logistik bagi korban bencana.
Alfi, salah satu barber senior di komunitas tersebut, mengungkapkan bahwa keterbatasan jarak tidak menghalangi niat mereka untuk membantu.
“Kami mungkin tidak bisa datang langsung ke lokasi bencana di Sumatera, tapi kami ingin berbuat sesuatu yang nyata. Lewat kemampuan kami memegang gunting dan mesin cukur, kami mencoba meringankan beban mereka,” ujar Alfi di sela kesibukannya melayani pelanggan.
Antusiasme Warga Kota Santri
Sejak pagi hingga sore hari, puluhan warga mulai dari pelajar hingga pedagang tampak antusias mengantre. Banyak dari mereka yang sengaja datang bukan hanya karena butuh potong rambut, tetapi karena tergerak oleh konsep donasi yang ditawarkan.
Selain melayani jasa pangkas, komunitas ini juga menyediakan kotak donasi terbuka bagi masyarakat yang ingin menyumbang tanpa harus mencukur rambut. Dana yang terkumpul direncanakan akan disalurkan melalui lembaga kemanusiaan terpercaya untuk pengadaan pangan, pakaian, dan kebutuhan darurat korban banjir.
Pesan Moral: Peduli Tanpa Batas
Aksi “Barber Life Family Jombang” ini menjadi pengingat bahwa kepedulian bisa diwujudkan melalui profesi apa pun. Nilai yang dikejar bukan sekadar angka di dalam kotak donasi, melainkan pesan bahwa semangat gotong royong tetap hidup subur di tengah masyarakat Jombang.
“Nilainya bukan pada besar kecilnya nominal, tapi pada kepedulian dan keikhlasan untuk berbagi. Di kursi cukur ini, kita bicara tentang kemanusiaan,” pungkas Alfi.












