JOMBANG — Momen bersejarah peringatan 1 Abad Nahdlatul Ulama (NU) dirayakan dengan kegiatan sakral bertajuk Napak Tilas Tongkat Isyaroh dan Tasbih Pendiri NU. Ribuan penderek yang terdiri dari santri, banom, jamaah, hingga masyarakat umum melakukan perjalanan spiritual dari Bangkalan, Madura, menuju makam Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari di Tebuireng, Jombang (04/01/2026).
Kegiatan ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan ikhtiar batin untuk merawat semangat keikhlasan, militansi, dan istiqamah dalam berkhidmah kepada organisasi yang didirikan oleh para ulama besar tersebut.
Rute Perjalanan: Simbol Koneksi Guru dan Murid
Napak tilas ini memiliki makna filosofis yang dalam, menghubungkan jejak Syaikhona Kholil Bangkalan (sang guru) dan KH. Hasyim Asy’ari (sang murid).
-
Etape Pertama: Peserta berjalan kaki dari titik pemberangkatan di Bangkalan menuju Pelabuhan penyeberangan Kamal.
-
Etape Kedua: Perjalanan dilanjutkan menggunakan moda transportasi Kereta Api menuju Kabupaten Jombang.
-
Etape Puncak: Ribuan masyarakat dari Madura dan Jombang berkumpul di Alun-alun Jombang tepat pukul 18.00 WIB untuk memulai jalan kaki bersama.
Jalan Kaki 6 Kilometer Menuju Tebuireng
Dengan membawa panji-panji NU dan semangat Hubbul Wathon Minal Iman (Cinta Tanah Air sebagian dari Iman), massa bergerak dari Alun-alun Jombang menuju Makam Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari di Pondok Pesantren Tebuireng yang berjarak sekitar 6 kilometer.
Suasana haru dan khidmat menyelimuti sepanjang jalur napak tilas. Lantunan selawat dan doa-doa penguat militansi ASWAJA terus menggema, menunjukkan kepatuhan serta cinta yang mendalam terhadap para ulama pendiri bangsa.
Puncak Doa dan Tahlil Bersama
Setibanya di kompleks pemakaman keluarga Tebuireng, kegiatan ditutup dengan zikir dan tahlil bersama. Para peziarah dengan khusyuk mendoakan para muassis (pendiri) NU agar semangat perjuangan mereka tetap hidup dalam dada setiap nahdliyin di abad kedua ini.
“Napak tilas ini adalah cara kita menyambung sanad semangat kepada Syaikhona Kholil dan Mbah Hasyim. Kita ingin memastikan bahwa di usia satu abad ini, militansi santri tetap teguh pada rel Ahlussunnah Wal Jama’ah,” ujar salah satu koordinator lapangan di lokasi.
Kegiatan ini membuktikan bahwa Nahdlatul Ulama tetap menjadi motor penggerak nasionalisme dan agama yang berjalan beriringan demi keutuhan NKRI.












