Selama sembilan pekan berturut-turut, arus dana asing terus keluar dari pasar keuangan domestik Indonesia. Fenomena ini terjadi bersamaan dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dalam beberapa pekan terakhir.
Data menunjukkan bahwa pada periode awal Desember 2024, investor asing mencatatkan jual neto sebesar Rp5,13 triliun. Rinciannya, terdapat beli neto sebesar Rp1,24 triliun di pasar saham, jual neto sebesar Rp1,37 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN), dan jual neto sebesar Rp5,00 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Secara kumulatif, sejak pekan kedua Oktober 2024, total jual neto mencapai sekitar Rp47 triliun.
Kepemilikan asing di SBN juga mengalami penurunan. Pada 5 Desember 2024, kepemilikan asing di SBN tercatat sebesar 14,55%, turun dari 14,83% sebelumnya.
Selain itu, beberapa perusahaan asing mempertimbangkan untuk melepas aset mereka di Indonesia. Salah satu perusahaan manajemen aset global asal Inggris dilaporkan sedang menjajaki penjualan unit bisnisnya di Indonesia yang mengelola aset sekitar $4 miliar. Langkah ini sejalan dengan strategi perusahaan untuk keluar dari pasar yang kurang menguntungkan.
Demikian pula, salah satu grup perbankan besar asal Australia bersama mitra lokalnya sedang mempertimbangkan untuk menjual saham pengendali mereka di salah satu bank swasta nasional. Mereka memiliki kepemilikan saham gabungan sekitar 85%, dengan nilai gabungan diperkirakan mencapai $2 miliar.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai daya tarik Indonesia bagi investor asing. Beberapa faktor, seperti melemahnya nilai tukar rupiah dan strategi perusahaan untuk keluar dari pasar yang kurang menguntungkan, dapat mempengaruhi keputusan investor asing untuk menarik investasinya dari Indonesia.












