YOGYAKARTA – Empat Dinasti Mataram Islam kembali dipersatukan dalam gelaran budaya tahunan Catur Sagotra 2025. Agenda yang melibatkan Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Karaton Kasultanan Yogyakarta, Pura Mangkunegaran, dan Pura Pakualaman ini diselenggarakan di Bangsal Kepatihan, Kompleks Kantor Gubernur DIY.
Catur Sagotra (Empat Saudara) berfungsi sebagai forum kebudayaan lintas dinasti, bertujuan mempererat silaturahmi sekaligus menjaga kesinambungan budaya adiluhung yang diwariskan oleh leluhur Mataram Islam.
Tahun ini, kegiatan Catur Sagotra mengusung tema filosofis “Kalyana: Olah Pikir, Olah Raga, Olah Jiwa”. Tema ini menggambarkan penyatuan kecerdasan nalar, kekuatan raga, dan kejernihan batin (cipta, rasa, dan karsa) yang menjadi bingkai kehidupan masyarakat Jawa sejak berabad-abad lalu.
Surakarta Hadiningrat Persembahkan Beksan Wiryanaranata
Sebagai salah satu pusat kebudayaan Mataram Islam, Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali menarik perhatian melalui penampilan Beksan Wiryanaranata. Tarian klasik ini mengangkat lelampahan (perjalanan) dalem SISKS Pakoe Boewono VI, menghadirkan gambaran spiritual dan kepemimpinan raja dengan ragam gerak yang lembut, halus, namun penuh ketegasan.
K.R.T. Tri Harjanto Budayadipura, Pangarsa Beksan Karaton Surakarta, menegaskan bahwa keberlangsungan Catur Sagotra adalah bukti kuat bahwa budaya Jawa peninggalan Mataram Islam masih hidup dan lestari.
“Beksan seperti Wiryanaranata menjadi pengingat bahwa nilai luhur itu harus terus dijaga,” ujarnya.
Beksan Wiryanaranata diperagakan oleh sembilan penari inti (empat putra dan lima putri). Empat penari putra melambangkan Catur Murti—empat unsur pembentuk kehidupan: Tanah (simbol stabilitas), Air (kelembutan), Api (kekuatan energi), dan Angin (transformasi). Konsep ini selaras dengan tema “Kalyana” yang menekankan keseimbangan.
Merawat Jati Diri di Tengah Perubahan Zaman
Pemimpin rombongan Kasunanan Surakarta dalam Catur Sagotra 2025, KPH Adipati Panembahan Sosronegoro, menekankan makna penting kegiatan ini bagi eksistensi kebudayaan Mataram.
“Catur Sagotra bukan sekadar pertemuan empat dinasti. Ini adalah wahana merawat jati diri, menjaga kesinambungan nilai-nilai luhur, dan memperkuat rasa kekeluargaan di antara sentana dalem lintas istana,” ungkapnya.
Beliau menambahkan bahwa keterlibatan generasi muda, seperti penari Nyimas Yohana Rosinta Christmas, menjadi kunci keberlanjutan warisan leluhur. Harapan senada disampaikan tokoh perempuan adat Kasunanan Surakarta, GKR Panembahan Timoer, agar Catur Sagotra terus berlangsung sebagai tonggak yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Catur Sagotra 2025 tidak hanya menjadi agenda budaya semata, tetapi juga medium perenungan untuk memahami bahwa warisan leluhur Mataram adalah kekayaan yang hidup, berkembang, dan harus terus dijaga oleh generasi penerusnya.












