Sumpah Spiritual Nusantara di Tengah Ancaman Krisis Global, Warga Solo Doakan Bangsa

SOLO – Puluhan orang mengikuti kegiatan Umbul Donga di Plaza Balai Kota Solo, Kamis (29/10/2026) malam. Ritual doa tersebut berlangsung khidmat dan tertib.

Pantauan di lokasi, para peserta Umbul Donga dan Sumpah Spiritual Nuswantara 2026 mengenakan pakaian hitam dan membawa dupa. Mereka berasal dari komunitas seni budaya dan spiritual.

Mereka berjalan dari arah Gladak menuju kawasan Balai Kota Solo sekitar pukul 19.00 WIB. Sejumlah peserta terlihat mengenakan kostum punakawan.

Petugas gabungan yang terdiri atas kepolisian, Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Solo, dan Satpol PP Solo turut menjaga keamanan dan ketertiban, termasuk mengatur lalu lintas.

Kawasan Balai Kota Solo agak senggang malam itu. Kondisi cuaca juga mendukung pelaksanaan ritual doa di luar ruangan. Para peserta menyanyikan Tembang Dandang Gula, Asmaradana, dan Kidung Ibu Pertiwi.

Warga Gelisah dengan Kondisi Bangsa

Koordinator acara, Lucky Nugroho, menjelaskan mayoritas warga, mulai dari anak-anak, pemuda, hingga ibu-ibu, mengeluhkan situasi bangsa Indonesia. Kondisi ekonomi, bencana alam, hingga kebijakan para pemimpin membuat warga gelisah.

“Umbul donga itu wujud partisipasi kami sebagai warga dengan mendoakan bangsa ini agar terlepas dari bencana, musibah alam, dan musibah yang dibuat oleh manusia itu sendiri. Khususnya oleh pemimpin-pemimpin, kebijakannya tidak berpihak rakyat,” jelas dia kepada awak media.

Dia menjelaskan masyarakat tetap membayar pajak di tengah daya beli yang menurun. Pengangguran hingga sejumlah industri yang gulung tikar juga menjadi persoalan.

Komunitas spiritual merespons kondisi tersebut dengan menggelar doa bersama.

“Kami hadirkan doa bukan dengan demonstrasi. Itu sebenarnya juga bagian dari implikasi pemerintah ini yang belum berpihak kepada kepentingan warga, belum berpihak kepada masyarakat, belum bisa memakmurkan rakyat. Tapi yang dipertontonkan adalah korupsi,” papar Lucky.

Korupsi Penyebab Daya Beli Anjlok

Lucky menjelaskan lebih jauh, korupsi menjadi komponen penting penyebab anjloknya daya beli masyarakat.

Aksi membakar 2.026 dupa menjadi pengingat bagi pemerintah mengenai besarnya anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) yang dihabiskan untuk kegiatan retret atau kursus pemantapan dan pembekalan bagi jajaran pemerintahan serta pejabat negara. Namun, beberapa pejabat justru terlibat korupsi.

Lucky menjelaskan para peserta menyanyikan Kidung Ibu Pertiwi yang bermakna agar rakyat tidak dimiskinkan. Menurut dia, rakyat sudah terhimpit secara ekonomi, tetapi masih mampu berusaha dan tidak melakukan tindakan kriminal.

“Kami ingatkan pada pemimpin-pemimpin agar mereka taubat. Sadar atas tanggung jawabnya sebagai pemimpin, atas tanggung jawabnya pada sumpah jabatannya. Kalian adalah abdi warga bangsa. Sejahterakan kami semua. Jangan sampai rakyat menderita,” ungkap dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *