JOMBANG — Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya kembali menyambangi Jombang, Jawa Timur. Kali ini, ia menghadiri agenda Bedah Buku KH Wahab Hasbullah di Kampus Universitas KH Wahab Hasbullah (UNWAHA) pada Sabtu (15/8/2026) malam.
Disambut Dzurriyah Pendiri NU
Kehadiran pimpinan tertinggi PBNU tersebut disambut hangat oleh jajaran petinggi NU dan dzurriyah (keluarga) muassis atau pendiri NU.
Ketua Majelis Pengasuh PP Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, KH Hasib Wahab Hasbullah, yang merupakan putra kandung KH Wahab Hasbullah, hadir langsung menerima kunjungan tersebut.
Usulan Masuk AHWA Muktamar ke-35
Mengingat kedudukannya sebagai satu-satunya putra KH Wahab Hasbullah yang masih ada, Ketua YPPBU KH Abdurrozaq Sholeh (Gus Rozaq) mengusulkan KH Hasib Wahab menjadi anggota Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) pada Muktamar Ke-35 NU mendatang.
Dalam sambutannya, Kiai Hasib mengenang perjuangan sang ayah yang menembus berbagai benteng organisasi demi kejayaan agama dan bangsa.
Hadirnya Cicit Mbah Wahab
Tampak hadir pula mantan Ketua Umum PPP Muhammad Romahurmuziy (Gus Romy) yang merupakan cicit KH Wahab Hasbullah sekaligus cucu KH Muhammad Wahib Wahab.
Suasana auditorium UNWAHA pun terasa khidmat saat Gus Yahya naik ke panggung utama membawa pesan penting tentang akar sejarah jam’iyah.
Bedah Buku Karya Abdul Mun’im DZ
Agenda malam itu membedah buku karya H Abdul Mun’im DZ setebal 262 halaman terbitan UNWAHA Press.
Buku ini memotret perjalanan Mbah Wahab sejak menimba ilmu di Makkah hingga aktif di pergerakan Sarekat Islam (SI).
Tiga Pilar Utama Pendirian NU
Gus Yahya menguraikan, sepulang dari Tanah Suci, Mbah Wahab merintis Nahdlatul Wathan (1916), Nahdlatut Tujjar (1918), dan Tashwirul Afkar (1918).
Ketiga pilar pendidikan, ekonomi, dan pemikiran inilah yang kemudian mengristal menjadi fondasi pendirian Nahdlatul Ulama pada 1926.
Bongkar Rahasia ‘Tertinggal Kapal’
Salah satu poin menarik yang disinggung Gus Yahya yakni geopolitics Mbah Wahab saat membalas undangan Muktamar Khilafah di Arab Saudi pasca-runtuhnya Turki Utsmani.
Saat itu Mbah Wahab beralasan ‘tertinggal kapal’. Namun Gus Yahya menegaskan itu hanyalah bentuk diplomasi halus khas ulama Nusantara untuk menolak Arab Saudi sebagai pusat khilafah baru.
Wejangan Sakral Mbah Wahab
Mbah Wahab secara tegas mengritik paham dominan di Hijaz yang dinilai terputus sanad keilmuannya (muqathi’), berbeda dengan tradisi keislaman Nusantara yang tersambung rapat (muttashil).
Menutup pembicaraannya, Gus Yahya mengutip pesan sakral Mbah Wahab bahwa barang siapa yang bertekad merusak NU dari dalam, ia akan hancur oleh ulahnya sendiri.















