Theme Song Muktamar ke-35 NU di Tambakberas Hadirkan Nuansa Arab dan Kearifan Lokal

JOMBANG – Perhelatan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang berpusat di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, tidak hanya diwarnai dinamika permusyawaratan organisasi.

Ajang tertinggi dalam struktur kepengurusan NU tersebut juga menyentuh relung sanubari warga nahdliyin melalui hadirnya theme song resmi perhelatan.

Lagu resmi berjudul “Manzhumah Al-‘Audah ilal Ushul” tersebut menarik perhatian karena dibalut karya syair berbahasa Arab dengan metrum Bahr Wafir.

Secara musikalitas, karya tersebut memadukan alunan instrumen khas Timur Tengah dengan nuansa kearifan lokal Nusantara yang kental.

Dibawakan Dua Dzurriyah Pendiri NU

Di balik lantunan lagu yang sarat pesan spiritual tersebut, terdapat peran dua sosok pengisi suara utama dari kalangan dzurriyah atau keturunan pendiri dan masyayikh.

Kedua vokalis tersebut adalah Ning Lia Nikmah Wafira yang akrab disapa Ning Vira serta Ning Majdah.

Bagi Ning Vira, keterlibatannya dalam pembawaan theme song Muktamar nasional merupakan momen berharga yang tak ternilai.

Ia memandang kesempatan tersebut sebagai sebuah amanah sekaligus kehormatan besar bagi keluarga besar pesantren.

“Ini adalah amanah dan kebanggaan yang sangat berharga bagi kami. Lagu ini diharapkan menjadi pepiling (pengingat) agar Muktamar melahirkan pemimpin yang amanah, visioner, mandiri, serta terus berpegang pada ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyyah,” ujar Ning Vira, Kamis (13/8/2026).

Ning Vira menambahkan, karya spiritual tersebut hadir sebagai seruan bagi seluruh elemen masyarakat untuk terus merawat tradisi dan membentengi bangsa.

“Mari kita bersama-sama menjaga agama, merawat bangsa, dan meneruskan perjuangan para masyayikh serta pendahulu NU,” ungkapnya.

Ning Majdah: Bentuk Syukur dan Kontribusi untuk NU

Perasaan haru dan tidak menyangka juga dirasakan Ning Majdah saat dipercaya mengisi vokal dalam perhelatan akbar tingkat nasional tersebut.

Menurutnya, kesempatan tersebut merupakan bentuk dedikasi sekaligus ungkapan rasa syukur sebagai bagian dari dzurriyah.

“Rasa bahagia dan tidak menyangka bisa dipercaya untuk acara sebesar Muktamar nasional ini. Ini adalah bentuk rasa syukur dan kontribusi kecil kami dari dzurriyah untuk Nahdlatul Ulama,” kata Ning Majdah.

Proses Rekaman Hanya Satu hingga Dua Jam

Meski hasil akhirnya terdengar matang dan megah, proses pengerjaan di balik layar berlangsung cukup cepat dan dinamis.

Seluruh proses pengambilan vokal di studio rekaman bahkan berhasil dirampungkan hanya dalam waktu sekitar satu hingga dua jam.

Ning Vira telah mempelajari materi lagu lebih awal, sedangkan Ning Majdah baru menerima dan mendalami materi tersebut tepat pada hari rekaman berlangsung.

Namun, berkat profesionalisme dan kemampuan beradaptasi, seluruh proses perekaman nada dan bait syair berjalan lancar tanpa kendala berarti.

Sarat Pesan Spiritual dan Harapan

Salah satu bait kunci dalam “Manzhumah Al-‘Audah ilal Ushul” melantunkan ungkapan bernuansa spiritual, “Bi farhatin, bi hamdillah, bi syukrillahi, wa ridwanillah.”

Ungkapan tersebut bukan sekadar rangkaian kata Arab yang indah, tetapi juga menggambarkan nilai yang dekat dengan kehidupan warga Nahdliyin.

Bait tersebut menggambarkan langkah yang dipenuhi kegembiraan dalam menerima amanah, senantiasa memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT, serta menyandarkan segala ikhtiar demi meraih keridaan-Nya.

Lagu resmi tersebut pada akhirnya tidak sekadar hadir sebagai pelengkap perhelatan Muktamar ke-35 NU di Tambakberas.

Di dalam bait-baitnya tersimpan doa, harapan, dan komitmen spiritual dari Bumi Tambakberas untuk Nahdlatul Ulama serta Indonesia.

“Semoga seluruh rangkaian acara Muktamar berjalan lancar, penuh hikmah, membawa keberkahan, dan mendapat keridaan Allah SWT,” pungkas Ning Majdah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *