FKUB Banjarmasin Kunjungi Paroki St. Vincentius a Paulo Kediri, Pelajari Kerukunan Umat Beragama

KEDIRI – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Banjarmasin melaksanakan kunjungan pengembangan wawasan ke Kota Kediri pada 2-4 Agustus 2026. Kegiatan tersebut diawali dengan mengunjungi Paroki St. Vincentius a Paulo Kediri, Minggu (2/8/2026).

Rombongan yang berjumlah sekitar 25 orang itu didampingi jajaran Pemerintah Kota Kediri, di antaranya Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Kediri, Camat Mojoroto beserta jajarannya. Kedatangan mereka disambut langsung oleh Kepala Paroki St. Vincentius a Paulo Kediri, RD Karel Nuki Prayogi.

Pelajari Praktik Toleransi di Kota Kediri

Kunjungan tersebut bertujuan memperluas wawasan mengenai kehidupan kerukunan antarumat beragama di Kota Kediri yang dikenal sebagai salah satu dari 10 kota paling toleran di Indonesia.

Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh gambaran secara langsung mengenai praktik toleransi, komunikasi lintas agama, serta sinergi antara tokoh agama, pemerintah, dan masyarakat dalam menjaga keharmonisan kehidupan beragama.

Dikemas dalam Dialog Santai

Pertemuan berlangsung dalam suasana dialog yang hangat dan penuh keakraban. Meski berlangsung singkat, diskusi berjalan interaktif dengan diselingi canda sehingga menciptakan suasana yang cair.

Para peserta saling bertukar pengalaman mengenai upaya membangun kerukunan umat beragama di daerah masing-masing, sekaligus memperkuat semangat toleransi dan persaudaraan antarumat beragama.

Lanjut Kunjungi Rumah Ibadah Lain

Usai mengunjungi Paroki St. Vincentius a Paulo, rombongan melanjutkan agenda safari pengembangan wawasan ke Klenteng Tjoe Hwie Kiong, kemudian ke Gereja Kristen Indonesia (GKI), dan mengakhiri rangkaian kegiatan di Balai Kota Kediri, tepatnya di Ruang Joyoboyo.

Melalui kunjungan tersebut, FKUB Kota Banjarmasin berharap dapat mengadopsi berbagai praktik baik dalam menjaga kerukunan umat beragama untuk diterapkan di Kota Banjarmasin, sekaligus memperkuat sinergi antarumat beragama demi terciptanya kehidupan masyarakat yang damai, harmonis, dan saling menghormati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *