KLATEN – DPD Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kabupaten Klaten mengikuti bedah buku bertajuk “Sistem, Model dan Corak Pendidikan LDII dalam Platform Profesional Religius dari Sabang sampai Merauke” secara daring dari Kantor DPD LDII Klaten, Sabtu (18/7/2026).
Kegiatan tersebut turut diikuti sejumlah pemangku kepentingan dan tokoh lintas lembaga di Kabupaten Klaten, mulai dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Pemerintah Kabupaten Klaten, Kesbangpol, Kementerian Agama, FKUB, hingga sejumlah undangan lainnya.
Bedah buku dipusatkan di Universitas Diponegoro, Semarang. Kegiatan tersebut juga dihadiri Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak.
Kupas Sistem Pendidikan LDII
Buku yang dibedah merupakan karya cendekiawan Nahdlatul Ulama (NU), Ahmad Ali MD. Buku tersebut mengulas sistem, model, dan corak pendidikan di lingkungan LDII berdasarkan kajian yang dilakukan di berbagai daerah di Indonesia.
Dalam penelitiannya, Ahmad Ali melihat pendidikan di lingkungan LDII memiliki pola yang terstruktur, sistematis, dan diterapkan secara relatif seragam dalam skala nasional.
Sistem pendidikan tersebut juga dikemas dalam kerangka 29 karakter luhur yang diarahkan untuk membentuk generasi profesional dan religius.
“Intinya, sistem pemahaman itu dibingkai dalam 29 karakter luhur yang diharapkan membentuk generasi LDII yang profesional ke depannya,” jelasnya.
Ahmad Ali juga menekankan pentingnya budaya belajar tanpa memandang latar belakang organisasi maupun kelompok.
“Dengan belajar, kita akan mengetahui, dan dengan mengetahui kita bisa menghindarkan kesalahpahaman dan permusuhan,” ujarnya.
Menurutnya, ketidaktahuan terhadap suatu kelompok atau organisasi dapat menjadi salah satu pemicu munculnya prasangka hingga konflik sosial.
“Ketidaktahuan tentang LDII, termasuk sistem pendidikannya, bisa menjadi faktor munculnya kebencian. Karena itu, siapa pun harus terus berusaha belajar,” katanya.
Dorong Hilangkan Stigma Antarormas
Sekretaris FKUB Kabupaten Klaten, H. Moch. Isnaeni, yang mengikuti kegiatan melalui Zoom dari Kantor LDII Klaten, menilai buku tersebut dapat menjadi salah satu referensi untuk memahami sistem pendidikan dan kaderisasi LDII.
Menurutnya, penulis melakukan kajian dari berbagai perspektif, baik melalui studi lapangan maupun penelusuran referensi.
“Buku ini cukup memadai dan bisa menjadi rujukan untuk memahami sistem pendidikan dan kaderisasi,” katanya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak menilai sebuah organisasi hanya berdasarkan perilaku sebagian anggotanya.
Menurut Moch. Isnaeni, stigma terhadap organisasi dapat terjadi pada berbagai ormas, termasuk Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA), Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, maupun LDII.
Karena itu, ia mendorong penguatan silaturahmi dan sinergi antarorganisasi untuk membangun sikap saling mengenal (taaruf), saling memahami (tafahum), dan saling bekerja sama (taawun).
“Kalau sudah saling memahami, kerja sama sudah barang tentu akan terbangun. Jika ada kekurangan, bisa saling melengkapi,” ujarnya.
LDII Jateng Apresiasi Kajian dari Pihak Eksternal
Ketua DPW LDII Jawa Tengah, Prof. Dr. H. Singgih Tri Sulistiyono, M.Hum., mengapresiasi penerbitan buku tersebut. Ia menilai kajian mengenai LDII yang dilakukan oleh peneliti dari luar organisasi memberikan perspektif yang penting.
“Saya merasa bersyukur dan berterima kasih karena hasil riset ini dibukukan. Ini menjadi kajian yang fair karena dilakukan oleh pihak luar, sehingga apa yang ditulis merupakan gambaran yang proporsional sesuai kondisi di lapangan,” ujarnya.
Menurut Singgih, kehadiran buku tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai sistem pendidikan LDII sekaligus menjadi referensi bagi masyarakat yang ingin memahami organisasi tersebut berdasarkan hasil kajian.
“Melalui buku ini, masyarakat bisa mengetahui secara lebih utuh bagaimana LDII. Ini berbeda dengan informasi yang hanya berdasarkan katanya-katanya,” pungkasnya.












