KLATEN — Anggota DPR RI, Didik Haryadi, membagikan resep sukses pengembangan ekonomi keluarga dalam acara “Buka Bersama dan Serasehan Pengembangan Ekonomi Perempuan” yang digelar di Pondok Pesantren Ta’limul Qur’an, Trucuk, Klaten, Senin (16/3/2026).
Di hadapan ratusan ibu-ibu Muslimat NU, Didik menekankan bahwa kunci menghadapi inflasi dan situasi ekonomi sulit adalah dengan keberanian menciptakan pendapatan alternatif melalui tata kelola yang baik.
Permodalan Berbasis Barang dan Koperasi RW
Didik berbagi pengalaman nyata, bukan sekadar teori. Ia menceritakan keberhasilan pendampingan koperasi di lingkungan RW di Solo. Dengan modal awal Rp10 juta yang diberikan dalam bentuk barang, kini aset koperasi tersebut telah berkembang pesat hingga mencapai Rp60 juta.
“Kita harus ada keberpihakan terhadap ekonomi perempuan. Karena mayoritas yang hadir adalah ibu rumah tangga, maka kita mulai dari hal terkecil secara nyata. Kami menawarkan permodalan berupa barang melalui koperasi untuk dikelola bersama,” ujar Didik kepada media usai kegiatan.
Digitalisasi: Syarat Mutlak Menembus Pasar Luas
Salah satu poin krusial yang ditekankan Didik adalah adaptasi teknologi. Menurutnya, ibu rumah tangga tidak boleh gagap teknologi (gaptek) jika ingin produk rumahangganya memiliki daya saing dan keberlanjutan.
“Mau tidak mau harus mengikuti perkembangan zaman. Kalau kita tidak mengenal digital, produk kita tidak akan dikenal orang lain. Tanpa keterkaitan dengan platform online, barang kita tidak akan bisa kontinyu dan sulit mendapat pasar yang luas,” tegasnya.
Dukungan Kebijakan untuk Ekonomi Perempuan
Melalui serasehan ini, Didik berharap para ibu rumah tangga di Klaten terinspirasi untuk memulai usaha mikro secara mandiri. Sebagai wakil rakyat, ia berkomitmen untuk terus mendorong kebijakan pusat yang pro-perempuan, khususnya dalam hal:
-
Akses Permodalan: Mempermudah syarat bantuan bagi koperasi skala kecil.
-
Pelatihan Digital: Program literasi digital khusus bagi pelaku usaha mikro perempuan.
-
Pendampingan Pasar: Menghubungkan produk lokal dengan platform e-commerce nasional.
Kegiatan ditutup dengan sesi diskusi interaktif, di mana para peserta berkonsultasi mengenai hambatan usaha yang mereka hadapi, mulai dari masalah kemasan hingga cara pemasaran di media sosial.












