JAKARTA — Mantan Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK), memberikan peringatan keras terkait potensi krisis energi yang membayangi Indonesia. Menurut JK, jika jalur pelayaran strategis Selat Hormuz benar-benar ditutup oleh Iran akibat eskalasi konflik dengan Amerika Serikat dan Israel, Indonesia akan menghadapi gangguan pasokan gas yang serius.
Hal tersebut disampaikan JK dalam acara Ngobrol Seru by IDN Times di kediamannya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (4/3/2026).
LPG Jadi Titik Lemah Ketahanan Energi Nasional
JK menilai LPG (elpiji) adalah komoditas yang paling rentan jika terjadi gangguan distribusi energi global. Saat ini, ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG masih sangat tinggi, di mana sekitar 70 persen kebutuhan nasional dipasok dari luar negeri, terutama Timur Tengah.
“Berbeda dengan bensin yang punya alternatif atau bisa disiasati dengan transportasi umum, LPG tidak ada penggantinya bagi masyarakat kecil. Kalau gas hilang, mereka tidak bisa masak,” ujar JK.
Menurutnya, masyarakat menengah ke bawah akan menjadi pihak yang paling terdampak secara langsung jika rantai pasok LPG terputus.
Stok BBM Nasional Hanya Cukup untuk 20 Hari
Selain menyoroti masalah gas, JK juga mengungkap kondisi cadangan energi nasional lainnya. Ia menyebutkan bahwa stok Bahan Bakar Minyak (BBM) Indonesia saat ini diperkirakan hanya mampu bertahan untuk sekitar 20 hari ke depan.
Meski dalam jangka pendek kondisi ini dianggap relatif aman, pemerintah diminta tidak lengah. Jika konflik di Timur Tengah berlangsung lama, Indonesia dipastikan harus bekerja ekstra keras mencari pasokan tambahan.
“Kita mungkin bisa mencari tambahan dari Singapura jika stok domestik menipis, tapi itu hanya solusi sementara. Ketahanan energi kita tetap sangat bergantung pada kondisi global,” tambahnya.
Karakter Iran dan Prediksi Konflik Panjang
Melihat rekam jejak sejarah sejak era Persia, JK memprediksi konflik yang melibatkan Iran tidak akan selesai dalam waktu singkat. Iran dinilai memiliki karakter negara yang tangguh dan tidak mudah menyerah di bawah tekanan militer maupun sanksi internasional.
Dukungan sistem persenjataan yang mandiri dan faktor ideologi yang kuat membuat Iran menjadi aktor kunci yang mampu mengganggu stabilitas jalur perdagangan vital dunia, seperti Selat Hormuz.
Pernyataan JK ini menjadi pengingat bagi pemerintah untuk segera memperkuat strategi ketahanan energi nasional dan mencari alternatif sumber energi domestik guna mengurangi ketergantungan impor di tengah situasi geopolitik yang kian tak menentu.












