RIYADH — Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih tertinggi dalam dekade ini. Fasilitas kilang Ras Tanura milik Saudi Aramco, salah satu kompleks pengolahan dan terminal ekspor minyak terbesar di dunia, dilaporkan dihantam serangan drone yang diduga kuat berasal dari Iran, Selasa (3/3/2026).
Serangan ini terjadi menyusul eskalasi cepat di kawasan setelah operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel, yang dikenal sebagai “Operation Epic Fury”, dikabarkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Dampak Serangan di Jantung Energi Dunia
Kilang Ras Tanura yang berlokasi di pesisir timur Arab Saudi merupakan pilar strategis pasokan energi global dengan kapasitas produksi 550.000 barel per hari. Ledakan tersebut memicu kebakaran hebat di area fasilitas pengolahan, namun otoritas setempat melaporkan api berhasil dikendalikan tanpa adanya korban jiwa.
Fasilitas ini memiliki peran vital karena:
-
Menangani ekspor hingga 6,5 juta barel per hari (bph).
-
Menyuplai lebih dari 25% kebutuhan bahan bakar domestik Arab Saudi.
-
Menjadi pintu gerbang utama minyak mentah kerajaan menuju pasar global.
Eskalasi Pasca “Operation Epic Fury”
Serangan balasan Iran ini merupakan respons langsung atas operasi militer Pentagon dan Israel pada 28 Februari lalu. Selain menyasar fasilitas energi di Arab Saudi, Teheran dilaporkan meluncurkan rangkaian rudal dan drone ke arah instalasi militer AS serta negara-negara sekutu Washington di Teluk, termasuk UEA, Bahrain, Qatar, dan Kuwait.
Media pemerintah Iran mengonfirmasi tewasnya sejumlah pejabat militer senior bersama Khamenei, yang memicu perintah serangan balasan besar-besaran di sepanjang Selat Hormuz.
Harga Minyak Dunia Meroket 10%
Pasar energi global langsung bereaksi terhadap ketidakpastian ini. Harga minyak mentah jenis Brent melonjak hingga 10% pada awal perdagangan pekan ini. Pelaku pasar mengantisipasi gangguan pasokan jangka panjang, terutama setelah laporan menyebutkan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz—jalur bagi seperlima distribusi minyak dunia—mengalami pelambatan tajam.
Arab Saudi Siapkan “Konsekuensi Berat”
Pemerintah Arab Saudi mengecam keras serangan terhadap infrastruktur nasionalnya dan menyebutnya sebagai pelanggaran kedaulatan yang serius. Riyadh memperingatkan akan adanya “konsekuensi berat” bagi pihak-pihak yang terlibat dan menyatakan kesiapan militer penuh untuk melindungi aset strategis nasional.
Jika konflik terus meluas dan infrastruktur energi terus menjadi sasaran empuk dalam perang proksi ini, ekonomi global diprediksi akan menghadapi krisis energi yang jauh lebih dalam dalam waktu dekat.












