JAKARTA UTARA — Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Fahri Hamzah, meninjau langsung progres penataan Kampung Nelayan Muara Angke, Jakarta Utara, Sabtu (31/1/2026). Dalam kunjungan tersebut, Fahri menegaskan komitmen pemerintah untuk menghadirkan hunian yang layak tanpa mencabut akar budaya dan mata pencaharian masyarakat pesisir.
Rumah Panggung: Konsep Ideal Kawasan Pesisir
Fahri Hamzah menekankan bahwa penataan kawasan pesisir memerlukan pendekatan khusus yang berbeda dengan wilayah perkotaan pada umumnya. Ia mengusulkan konsep rumah panggung bertingkat sebagai solusi cerdas menghadapi karakteristik lahan di Muara Angke.
“Konsep rumah panggung bertingkat lebih memungkinkan diterapkan di kawasan ini. Selain lebih tertata, ruang di bawahnya bisa dimanfaatkan untuk aktivitas warga, dan akses lingkungan juga bisa diatur dengan lebih baik,” ujar Fahri Hamzah di sela peninjauan.
Mendukung Ekosistem Hidup Nelayan
Menurut Fahri, pembangunan perumahan bagi nelayan harus tetap berpihak pada keberlanjutan ekonomi masyarakat setempat. Hunian tidak boleh dibangun jauh dari lokasi mereka melaut agar efisiensi kerja tetap terjaga.
“Masyarakat pesisir tidak bisa dijauhkan dari ruang hidupnya. Rumah panggung menjadi solusi yang sesuai dengan karakter kawasan dan budaya pesisir Indonesia,” tambahnya.
Kolaborasi Lintas Sektor “Kampung Nelayan Merah Putih”
Kementerian PKP berencana melakukan penataan secara menyeluruh dan terintegrasi. Fahri menyatakan akan segera berkoordinasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk mensinkronkan langkah dengan program Kampung Nelayan Merah Putih.
Sinergi ini diharapkan menjadikan Muara Angke sebagai model percontohan nasional dalam penataan kawasan pesisir yang tepat guna, estetis, dan berkelanjutan, demi mewujudkan kesejahteraan nelayan melalui hunian yang layak.












