Banjir Lumpur Terjang Lereng Gunung Slamet, 3 Warga Tewas dan Puluhan Rumah Hancur

PEMALANG — Duka mendalam menyelimuti wilayah lereng Gunung Slamet. Hujan dengan intensitas ekstrem yang mengguyur sejak Jumat malam mengakibatkan banjir lumpur dahsyat yang menerjang sejumlah desa di Kabupaten Pemalang, Sabtu (24/1/2026) dini hari.

Banjir yang membawa material lumpur pekat dan potongan kayu besar ini dilaporkan telah menelan tiga korban jiwa serta merusak puluhan rumah warga di dua kecamatan berbeda.

Desa Penakir Menjadi Titik Terparah

Kecamatan Pulosari, khususnya Desa Penakir, menjadi lokasi dengan dampak kerusakan paling fatal. Arus liar yang datang tiba-tiba tidak hanya membawa air, tetapi juga material kayu-kayu besar yang menghantam dinding rumah warga. Tiga orang warga dilaporkan tidak sempat menyelamatkan diri saat bencana terjadi sekitar pukul 01.30 WIB.

Selain di Penakir, banjir kiriman juga menerjang Desa Sima, Kecamatan Moga. Material lumpur yang masuk ke dalam rumah warga menyebabkan kerusakan barang elektronik, perabotan, hingga infrastruktur desa.

Kesaksian Warga: Gemuruh Besar Sebelum Terjang

Pak Riskon, salah satu korban terdampak, menceritakan momen mencekam saat banjir datang. Kondisi yang gelap gulita membuat warga sempat panik saat mendengar suara dari arah sungai.

“Suara gemuruh dari sungai terdengar sangat keras dan mengerikan sebelum akhirnya arus besar datang menerjang rumah-rumah warga. Semua terjadi begitu cepat,” tuturnya dengan nada trauma.

Dugaan Pembalakan Liar di Lereng Slamet

Relawan bencana, Pak Agus, yang saat ini berada di lokasi menjelaskan bahwa banjir kali ini terasa berbeda karena banyaknya potongan kayu gelondongan yang terbawa arus. Hal ini memicu dugaan adanya aktivitas penebangan liar di area hulu atau lereng Gunung Slamet yang membuat tanah tidak mampu lagi menahan laju air hujan.

“Kami sangat membutuhkan dukungan alat berat. Tanpa bantuan ekskavator, sulit bagi relawan dan warga untuk membersihkan material lumpur dan tumpukan kayu yang menutup akses pemukiman,” tegas Agus.

Proses Evakuasi dan Penanganan Darurat

Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan dari BPBD Pemalang, TNI, Polri, dan relawan masih melakukan upaya pencarian dan pembersihan. Pengungsian sementara telah didirikan untuk menampung warga yang rumahnya tidak lagi layak huni. Pemerintah daerah diimbau segera melakukan investigasi terkait penyebab banyaknya material kayu yang terbawa banjir guna mencegah bencana serupa di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *