TANJUNGPINANG – Suasana kehangatan dan keakraban warga Sunda di perantauan terlihat kental dalam acara resepsi pernikahan Arif, salah satu Ketua Asgar (Asli Garut) Kota Tanjungpinang. Pernikahan ini digelar dengan prosesi adat Sunda lengkap, yang turut dihadiri berbagai tamu undangan di perantauan dan tokoh penting daerah.
Acara pernikahan yang meriah ini memadukan tradisi khas Sunda, mulai dari Tarian Lengser, ritual Nendeun Omong (menyimpan janji), hingga ritual kocak Pabetot Hayam Bakakak. Semua prosesi diikuti antusias oleh kedua mempelai, keluarga, dan tamu undangan.
Momen tersebut semakin istimewa karena acara dipandu secara bilingual agar keluarga dari kedua belah pihak, terutama orang tua pengantin pria, dapat memahami dan merasakan keakraban budaya Sunda yang dibawa ke Provinsi Kepri.
Kehadiran Tokoh dan Kecintaan Budaya
Acara pernikahan ini turut dihadiri oleh Wakil Gubernur Provinsi Kepri, Nyanyang Haris Pratamura, serta tokoh-tokoh Sunda yang ada di Kepri.
Menurut keterangan pembawa acara, Yopi, suasana pernikahan dipenuhi tawa dan kehangatan karena kedua mempelai yang seru dan kocak. Bahkan orang tua dari pihak mempelai wanita pun ikut tertawa melihat ritual unik yang disajikan.
Pengantin pria, Arif, ternyata memang sangat mencintai budaya Sunda. Pernikahan adat Sunda lengkap ini merupakan wedding dream baginya. Kecintaannya tidak hanya sebatas ritual, namun juga terlihat pada:
-
Dekorasi pelaminan yang dibuat menyerupai suasana di kampung halaman Jawa Barat.
-
Cita rasa masakan Sunda yang disajikan kepada para tamu.
Pernikahan adat Sunda ini menjadi bukti nyata bagaimana budaya leluhur tetap hidup dan dirayakan dengan penuh kehangatan, bahkan di tengah-tengah komunitas perantauan di Kota Tanjungpinang.












