DIDUGA ADA TINDAKAN DISKRIMINASI DALAM PELAYANAN, PASIEN MENINGGAL SETELAH DIPULANGKAN

MOJOKERTO | Pasien warga Kecamatan Magersari, Kelurahan Balongsari inisial (B) 64th meninggal dunia setelah mendapat perawatan dari RS Dr. Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto.

Diagnosis dokter penyakit pasien DM (Diabetes Melitus) meningkat dan hipertensi. Pasien dengan riwayat DM masuk rawat inap di RSUD Dr. Wahidin Sudiro Husodo pada Senin, 2/9 sekitar pukul 17.00 WIB.

Pasien yang merupakan pensiunan rumah sakit tersebut menggunakan fasilitas Asuransi Kesehatan (ASKES). Namun diketahui pelayanan RSUD diduga ada sikap diskriminasi pelayanan dokter terhadap pasien.

Pasien inisial (B) mendapatkan pelayanan rawat inap 4 hari berjalan. Keadaan pasien pada hari pertama dan kedua tidak banyak mengalami perubahan. Hari ke-3 dan 4 secara signifikan terdapat penurunan gula darah dari 380mg/dL sampai dengan 280mg/dL menurut keterangan keluarga pasien.

Di hari ke-4 pasien dipulangkan oleh dokter yang dinyatakan sembuh dengan kondisi sadar. Satu hari pasien di rumah mengalami peningkatan gula darah sangat drastis, hingga dilarikan ke RS EMMA Mojokerto.

Berdasar keterangan keluarga pasien pada awak media S.O, secara pelayanan rumah sakit dikatakan cukup baik, namun yang perlu diperhatikan ketidakprofesionalan tenaga dokter khususnya yang menangani pasien penyakit dalam inisial (R).

“Kalo saya menilai secara pelayan tenaga keperawatan lumayan cukup baik. Namun secara pemeriksaan dokter kami keluarga menilai ketidakprofesionalan tenaga dokter yang memeriksa orangtua kami. Bagaimana tidak kami menganggap kurang profesional dokternya, orangtua saya diagnosanya gula darahnya tinggi 480mg sampai mengalami sesak nafas, itupun tidak di oksigen,” tutur AJK anaknya.

“Tiap kali ada pemeriksaan, dokter tidak menjelaskan dengan detail mengenai perkembangan sakit orangtua kami. Selama dirawat inap bapak saya mengalami sesak nafas sampai kakinya bengkak. Pemeriksaan dokter hanya fokus pada gula darah dan hipertensinya. Indikasi penyebaran penyakit lain tidak dilakukan. Seharusnya sebagai dokter spesialis lebih mengetahui daripada orang awam seperti saya,” jelasnya.

“Dipulangkanpun hanya berasumsi sudah sehat karna selama dua hari gula darahnya turun. Padahal orangtua saya masih mengalami sesak pada pernapasan dan kakinya bengkak. Asumsi kami apakah pelayanan rawat inap ini hanya berlaku 3 hari karena menggunakan ASKES. Waktu dipulangkan pada Kamis, (5/9) sehari di rumah pada hari Jum’at malam bapak saya samakin parah sesak nafasnya. Malam itu kami berencana kembali ke RSUD namun bapak saya tidak mau, minta dibawa ke RS EMMA alasannya layanan dokter RSUD tidak tepat,” jabarnya.

“Kakak saya kurang lebih jam 01.00 WIB (Sabtu dini hari) melarikan bapak ke RS EMMA. Sampai di IGD mendapat perawatan intensif khusus, kemudian masuk ke ruang ICU. Tim dokter menyampaikan pada keluarga agar banyak berdoa karena kondisi bapak sangat kritis yakni ada cairan masuk dalam paru-paru yang menjalar seluruh tubuh. Sekitar pukul 06.00 WIB bapak saya menghembuskan nafas terakhir,” tutupnya.

Dari keterangan yang disampaikan pihak keluarga, awak media S.O akan menggali keterangan pada pihak RS Wahidin Sudiro Husodo dan BPJS Kota Mojokerto atas dugaan diskriminasi pelayanan SDM.

Bersambung..

Penulis: RONI WIJAYAEditor: SNF

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *