Waspada! Kabut Asap Selimuti Kepri, Kualitas Udara Masuk Kategori Tidak Sehat

KEPULAUAN RIAU – Langit Kepulauan Riau (Kepri) tampak diselimuti kabut asap pada Senin (14/9/2026) pagi. Kondisi udara yang menurun membuat warga diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki gangguan jantung dan paru-paru.

Berdasarkan pemantauan kualitas udara, indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) US di Kepulauan Riau mencapai 171, yang masuk kategori tidak sehat (unhealthy). Polutan utama yang terdeteksi adalah PM2.5, partikel halus yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.

Kondisi cuaca saat pemantauan juga menunjukkan atmosfer Kepulauan Riau berada dalam kondisi smoke atau berkabut asap. Suhu mencapai sekitar 32 derajat Celsius dengan suhu yang terasa hingga 38 derajat Celsius.

Asap Kiriman dari Sumatera

Kabut asap yang menyelimuti Kepulauan Riau diduga berkaitan dengan asap kiriman dari kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumatera. Sejumlah titik panas terpantau berada di Sumatera Utara, Jambi, dan Riau, dengan pergerakan asap terbawa angin dari arah tenggara hingga selatan menuju wilayah Kepulauan Riau.

Informasi tersebut juga sejalan dengan keterangan BMKG Stasiun Raja Haji Fisabilillah (RHF) Tanjungpinang, yang menyebut masuknya asap ke wilayah Kepri berkaitan dengan banyaknya titik panas di Sumatera.

Meski kualitas udara memburuk, kondisi jarak pandang di wilayah Kepulauan Riau masih relatif aman untuk aktivitas penerbangan. Jarak pandang dilaporkan berada di kisaran 9.000 meter.

Namun, kondisi tersebut tetap perlu diwaspadai karena paparan PM2.5 dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama jika masyarakat melakukan aktivitas di luar ruangan dalam waktu lama.

ISPA Mulai Meningkat

Dinas Kesehatan Kepri mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara memburuk. Terlebih, kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mulai menunjukkan peningkatan.

Kelompok rentan diminta menjadi perhatian khusus. Anak-anak, lanjut usia, serta penderita penyakit jantung dan paru-paru sebaiknya tidak terlalu lama berada di luar ruangan ketika kabut asap masih pekat.

Kewaspadaan terhadap kualitas udara juga perlu ditingkatkan melihat tren konsentrasi PM2.5 di Tanjungpinang. Data terbaru menunjukkan konsentrasi PM2.5 meningkat dari 17,5 mikrogram per meter kubik pada 4 September menjadi 24,9 mikrogram per meter kubik pada 11 September 2026.

Meski angka tersebut masih berada dalam kategori sedang, peningkatan konsentrasi partikel halus ini menjadi sinyal agar masyarakat tidak mengabaikan kondisi udara, khususnya ketika kabut asap mulai terlihat secara kasat mata.

Imbauan untuk Warga

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) juga mengingatkan warga untuk menggunakan masker yang memadai, memperbanyak minum air putih, serta tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan yang berpotensi memperburuk kualitas udara.

Untuk masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah, penggunaan masker N95 atau KN95 dianjurkan. Warga juga diminta menutup pintu dan jendela rumah serta menggunakan air purifier jika tersedia.

Aktivitas olahraga di luar ruangan sebaiknya ditunda sementara sampai kualitas udara membaik. Masyarakat yang mengalami keluhan seperti batuk berkepanjangan, sesak napas, atau gangguan pernapasan lainnya diminta segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan.

Kabut asap diperkirakan dapat berkurang apabila terjadi hujan dan angin yang cukup kuat untuk membantu membersihkan atmosfer. Namun, berdasarkan prakiraan BMKG, hujan dalam satu hingga dua pekan ke depan masih berpotensi terjadi dengan intensitas yang relatif kecil.

Dengan kondisi tersebut, masyarakat Tanjungpinang diminta tidak menganggap kabut asap sebagai sekadar gangguan pemandangan. Ketika angka AQI sudah berada di level 171 atau kategori tidak sehat, menjaga kesehatan pernapasan menjadi langkah penting yang perlu dilakukan setiap warga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *