PEMALANG — Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Warungpring turut mengambil peran strategis dalam menyukseskan gelaran Kirab Budaya Slumpring Festival dan Grebeg Maulud di Desa Cibuyur, Kabupaten Pemalang.
Mengusung tema “Harmoni Budaya dalam Gema Maulid”, perhelatan budaya ini menjadi wujud nyata pemeliharaan tradisi lokal yang selaras dengan nilai-nilai keislaman. Rangkaian acara yang dipusatkan di Lapangan Desa Cibuyur ini sukses menyedot antusiasme ribuan warga dari berbagai wilayah, hingga menarik perhatian wisatawan asing.
Kehadiran Lesbumi MWC NU Warungpring di tengah festival ini menegaskan peran aktif Nahdlatul Ulama dalam merawat kearifan lokal agar tetap beriringan dengan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah.
Sinergi Dakwah Kultural dan Kearifan Bambu
Daya tarik utama festival ini terletak pada Kirab Budaya dan Grebeg Maulud yang menampilkan arak-arakan gunungan hasil bumi serta gunungan kerajinan berbahan bambu (slumpring), yang merupakan potensi unggulan Desa Cibuyur.
Lesbumi MWC NU Warungpring memandang perpaduan antara momentum peringatan lahirnya Nabi Muhammad SAW dan festival budaya lokal ini sebagai pendekatan dakwah kultural yang sangat menyejukkan.
Ketua Lesbumi MWC NU Warungpring sekaligus Ketua Panitia, M. Sukron Ma’mun, menegaskan bahwa kebudayaan dan agama sejatinya tidak untuk dipertentangkan, melainkan saling melengkapi dan menguatkan.
“Kesenian dan tradisi slumpring di Cibuyur adalah warisan leluhur yang kaya akan nilai sosial. Melalui Grebeg Maulud, kita mengisinya dengan rasa syukur atas rahmat kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW sekaligus mempererat tali silaturahmi antarwarga,” ungkap Sukron.
Gerakkan Roda Ekonomi dan Lestarikan Identitas
Lebih dari sekadar ajang spiritual dan pelestarian budaya, perhelatan ini juga memberikan dampak positif langsung pada perputaran ekonomi warga lokal melalui bazar UMKM dan ragam pertunjukan seni tradisi. Penggunaan elemen slumpring (bambu) secara masif dalam pernak-pernik kirab menjadi simbol ketahanan dan tingginya daya cipta masyarakat Desa Cibuyur.
Melalui momentum ini, pihak panitia dan Lesbumi MWC NU Warungpring turut memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kepala Desa Cibuyur, Yoyok Kusnodo, jajaran Pemerintah Desa, serta seluruh elemen masyarakat yang masih teguh mempertahankan budaya dan membangun keharmonisan nilai-nilai keagamaan.
Ke depannya, sinergi antara pemerintah desa, penggerak budaya, masyarakat luas, dan Lesbumi MWC NU Warungpring diharapkan dapat terus berlanjut. Lesbumi berkomitmen untuk terus mendampingi kegiatan seni-budaya berbasis komunitas di wilayah Warungpring agar tradisi warisan leluhur ini tetap lestari tanpa kehilangan pijakan nilai-nilai luhur keislaman.












