SIDOARJO – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh atlet muda berbakat asal Kabupaten Lamongan, Dewi Ajeng Windriyati, dari Jaya Sport Aquatic Club (JSAC), dalam ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) Cabang Olahraga Renang Tingkat Provinsi Jawa Timur yang digelar di Kolam Renang GOR Delta Sidoarjo.
Atlet berusia 11 tahun 9 bulan yang masih duduk di bangku SD/MI sederajat tersebut berhasil menunjukkan performa terbaiknya dengan memecahkan catatan waktu pribadi (personal best/PB) pada dua nomor yang dipertandingkan.
Raih Juara III dan Pertajam Rekor Pribadi
Pada nomor 50 meter gaya punggung, Dewi Ajeng berhasil meraih Juara III setelah membukukan catatan waktu 39,05 detik, bersaing dengan 10 atlet terbaik dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur.
Prestasi tersebut menjadi pencapaian istimewa karena Dewi Ajeng mampu mempertajam catatan waktu pribadinya secara signifikan, dari sebelumnya 42,32 detik menjadi 39,05 detik, atau meningkat lebih dari tiga detik.
Tidak hanya itu, Dewi Ajeng juga tampil impresif pada nomor 50 meter gaya kupu-kupu. Meski menempati peringkat ke-13 dari 18 peserta, ia kembali mencatatkan peningkatan performa dengan membukukan waktu 36,07 detik, lebih cepat dibandingkan rekor terbaik sebelumnya, yakni 39,41 detik.
Disiplin dan Konsistensi Jadi Kunci Prestasi
Pelatih Dewi Ajeng, Rahmat Efendi, mengungkapkan bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil dari proses latihan yang panjang dan konsisten.
Menurutnya, sejak pertama kali mengikuti latihan renang, Dewi Ajeng telah menunjukkan karakter, kedisiplinan, dan fokus yang berbeda dibandingkan atlet seusianya.
“Jika melihat ke belakang saat awal mulai belajar renang, Dewi memiliki disiplin yang berbeda dari atlet lainnya. Dalam setiap proses latihan, ia selalu berusaha memberikan yang terbaik. Selain itu, fokusnya juga berbeda. Ia mampu memahami dan menerapkan strategi yang diberikan pelatih, kemudian terus melakukan peningkatan sesuai dengan level perlombaan yang diikuti,” ungkap Rahmat.
Ia menjelaskan, konsistensi latihan menjadi faktor utama yang mengantarkan Dewi Ajeng mampu memecahkan rekor pribadinya pada O2SN tingkat Provinsi Jawa Timur.
Program latihan yang diterapkan juga disusun berdasarkan pendekatan sport science, disesuaikan dengan usia dan kemampuan atlet sehingga proses pembinaan berjalan secara bertahap, terukur, dan optimal.
“Konsistensi latihan menjadi faktor penentu pecahnya personal best. Kami menyusun program latihan yang sesuai dengan usia dan kemampuan atlet melalui pendekatan sport science. Harapannya, atlet dapat berkembang secara optimal dan mencapai puncak prestasi pada masa golden age,” jelasnya.
Bukti Atlet Daerah Mampu Bersaing di Tingkat Provinsi
Rahmat menilai capaian yang diraih Dewi Ajeng memiliki arti penting bagi perkembangan olahraga renang di Kabupaten Lamongan. Menurutnya, prestasi ini menjadi bukti bahwa atlet daerah mampu bersaing dengan para perenang terbaik di tingkat provinsi.
“Tentunya prestasi ini menjadi pencapaian yang luar biasa. Ini merupakan sejarah bagi renang Kabupaten Lamongan karena mampu bersaing dan meraih juara di tingkat Jawa Timur. Yang paling membanggakan, Dewi Ajeng merupakan atlet binaan Club Jaya Sport Aquatic Club (JSAC) yang berlatih di Kolam Renang Oro-oro Ombo, Mantup, Lamongan. Hal ini membuktikan bahwa pembinaan atlet di daerah juga mampu menghasilkan prestasi jika dilakukan secara konsisten dan terarah,” tuturnya.
Ia berharap prestasi tersebut dapat menjadi motivasi bagi atlet-atlet muda lainnya di Kabupaten Lamongan untuk terus berlatih dan berani bersaing di level yang lebih tinggi.
“Kami berharap prestasi ini dapat menjadi motivasi bagi seluruh atlet renang Kabupaten Lamongan agar terus berprestasi, tidak hanya di tingkat Jawa Timur tetapi juga pada level nasional. Kami juga berharap pembinaan atlet mendapat perhatian yang lebih baik dari Akuatik Indonesia Kabupaten Lamongan maupun Dinas Pendidikan, sehingga semakin banyak atlet muda yang dapat mengembangkan potensinya dan mengharumkan nama daerah,” pungkasnya.
Keberhasilan memperbaiki catatan waktu pada dua nomor lomba tersebut menjadi bukti bahwa pembinaan atlet usia dini yang dilakukan secara sistematis mampu menghasilkan peningkatan performa yang nyata. Prestasi yang diraih Dewi Ajeng Windriyati tidak hanya menjadi kebanggaan bagi sekolah dan Kabupaten Lamongan, tetapi juga menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus berprestasi melalui kerja keras, disiplin, dan pembinaan yang berkelanjutan.













