PEKANBARU – Konflik dualisme kepengurusan di tubuh Pengurus Besar Muaythai Indonesia (PB MI) kian memanas dan mulai berdampak hingga ke daerah. Situasi tersebut memicu kekhawatiran sejumlah pelatih dan pengurus daerah karena dinilai dapat mengganggu pembinaan atlet menjelang berbagai agenda kejuaraan nasional.
Dualisme kepengurusan muncul setelah adanya dua kubu yang sama-sama mengklaim memiliki legitimasi memimpin PB Muaythai Indonesia periode 2026–2030.
Dua Kubu Sama-sama Klaim Kepemimpinan
Kubu pertama dipimpin oleh La Nyalla Mattalitti yang mengklaim terpilih sebagai Ketua PB Muaythai Indonesia melalui Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) yang digelar pada 10 April 2026 di Jakarta.
Sementara itu, kubu lainnya dipimpin Nadiem Al Farrel yang juga mengklaim terpilih secara aklamasi dalam Munaslub yang berlangsung pada 25 April 2026.
Perbedaan pandangan mengenai legitimasi kepengurusan tersebut kemudian merembet hingga ke tingkat provinsi dan kabupaten/kota di berbagai daerah.
Coach Juna Riau Soroti Dampak ke Atlet
Pelatih Utama Muaythai Riau sekaligus pemilik Alfa Training Camp, Arjuna Sianturi atau yang akrab disapa Coach Juna, menyayangkan konflik yang terjadi dan berharap seluruh pihak dapat mengedepankan kepentingan atlet.
Menurutnya, pembinaan atlet yang selama ini berjalan dengan baik jangan sampai terganggu akibat polemik organisasi di tingkat pusat.
“Sebagai pelatih yang pernah mendampingi atlet Riau pada berbagai ajang nasional, saya berharap seluruh pihak bisa fokus pada pembinaan dan masa depan atlet. Jangan sampai konflik organisasi menghambat persiapan atlet menghadapi berbagai kejuaraan,” ujarnya.
Dikhawatirkan Ganggu Persiapan PON Bela Diri 2026
Kekhawatiran serupa disampaikan Ketua Harian Pengprov Muaythai Indonesia Riau, Roy Irawan, S.H. Menurutnya, konflik di tingkat pusat berpotensi memberikan dampak serius terhadap pembinaan olahraga Muaythai di daerah.
Ia menilai jika polemik tidak segera diselesaikan, maka atlet dan pelatih akan menjadi pihak yang paling dirugikan, terutama menjelang pelaksanaan PON Bela Diri 2026.
“Jika konflik ini terus berlarut-larut, tentu akan mengganggu fokus pembinaan atlet dan persiapan menghadapi event nasional maupun internasional,” katanya.
Dorong Penyelesaian Melalui Rekonsiliasi
Roy yang juga berprofesi sebagai advokat berharap kedua kubu dapat mengedepankan dialog dan rekonsiliasi demi menjaga masa depan olahraga Muaythai Indonesia.
Menurutnya, penyelesaian secara musyawarah menjadi langkah terbaik agar organisasi kembali solid dan pembinaan atlet dapat berjalan tanpa hambatan.
Ia juga mengingatkan bahwa konflik berkepanjangan berpotensi merugikan perkembangan olahraga Muaythai secara nasional jika tidak segera menemukan titik temu.
Atlet Diminta Tetap Fokus Berlatih
Di tengah dinamika organisasi yang terjadi, para pelatih mengimbau atlet untuk tetap fokus menjalani latihan dan mempersiapkan diri menghadapi berbagai agenda pertandingan yang telah dijadwalkan.
Mereka berharap persoalan kepengurusan dapat segera diselesaikan sehingga seluruh elemen Muaythai Indonesia dapat kembali bersatu dalam membangun prestasi olahraga nasional.
Sejumlah pihak pun menaruh harapan besar agar konflik dualisme kepengurusan PB Muaythai Indonesia dapat segera berakhir demi menjaga stabilitas organisasi, keberlangsungan pembinaan atlet, serta masa depan olahraga Muaythai di Tanah Air.












