GRESIK — Perjuangan panjang Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani, agar sektor budidaya perikanan kembali mendapatkan alokasi pupuk bersubsidi akhirnya membuahkan hasil manis. Dalam Kunjungan Kerja Reses Komisi IV DPR RI di Kabupaten Gresik, Senin (23/2/2026), dipastikan bahwa pembudidaya ikan resmi masuk kembali dalam skema subsidi pupuk nasional tahun 2026.
Langkah ini menjadi angin segar bagi puluhan ribu petambak di Gresik yang selama beberapa tahun terakhir mengalami kesulitan akibat pencabutan subsidi di sektor perikanan.
Menjawab Kegelisahan 20 Ribu Pembudidaya
Bupati Fandi Akhmad Yani mengungkapkan bahwa sektor tambak merupakan tulang punggung ekonomi rakyat di Gresik. Dengan luas lahan budidaya mencapai lebih dari 28 ribu hektare, ketergantungan petambak tradisional terhadap pupuk sangatlah tinggi, terutama untuk menumbuhkan plankton sebagai pakan alami ikan.
“Beberapa tahun belakangan ini kami mengalami kegelisahan. Ketika pupuk subsidi dicabut, dampaknya sangat terasa. Ikan bandeng tidak tumbuh optimal. Padahal, perputaran ekonomi di sektor tambak saja bisa mencapai Rp900 miliar per tahun. Ini adalah ekonomi rakyat yang harus dijaga,” tegas Bupati yang akrab disapa Gus Yani tersebut.
Alokasi Nasional dan Kuota Khusus Gresik
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Panggah Susanto, mengonfirmasi bahwa aspirasi Pemkab Gresik telah masuk dalam rekomendasi Panja Pupuk nasional. Untuk tahun 2026, Kabupaten Gresik mendapatkan jatah alokasi yang cukup signifikan, antara lain:
-
Pupuk Urea: 4.721 ton
-
Pupuk SP36: 4.598 ton
-
Pupuk Organik: 506 ton
Secara nasional, pemerintah mengalokasikan anggaran hampir Rp300 miliar untuk memenuhi kebutuhan pupuk budidaya sekitar 29.500 ton.
Distribusi Digital dan Stabilitas Harga Panen
Direktur Operasi PT Pupuk Indonesia, Dwi Satriyo Annurogo, memastikan kesiapan stok dan sistem distribusi yang kini telah terdigitalisasi penuh secara real-time. Hal ini dilakukan guna menjamin pupuk tersalurkan tepat sasaran kepada para pembudidaya yang terdaftar.
Di sisi lain, perwakilan petambak, Sholiq, menyambut baik kembalinya subsidi ini namun turut menitipkan pesan agar pemerintah menjaga stabilitas harga saat panen raya. “Kami mohon stabilitas harga juga diperhatikan agar saat produksi naik, harga bandeng tidak anjlok,” harapnya.
Hilirisasi dan Penguatan Ekonomi Desa
Menanggapi aspirasi tersebut, Gus Yani mendorong penguatan ekosistem dari hulu ke hilir. Selain memastikan ketersediaan pupuk, Pemkab Gresik berencana melibatkan Koperasi Desa Merah Putih dalam rantai distribusi agar ekonomi desa ikut bergerak.
Dengan kembalinya subsidi pupuk ini, produksi perikanan budidaya Gresik yang pada tahun 2025 mencapai 160.439 ton dengan nilai Rp3,54 triliun, diharapkan dapat terus meningkat dan memperkokoh posisi Gresik sebagai lumbung pangan sektor perikanan nasional.












