Menepis Stigma “Buku Kiri”, Bedah Buku #RESET INDONESIA di Jombang Ajak Gen Z Peduli Politik dan Alam

JOMBANG — Komunitas literasi Jombang berhasil menggelar acara bedah buku yang tengah menjadi sorotan nasional, #RESET INDONESIA, pada Jumat (26/12/2025). Bertempat di Rumah Merdeka, acara ini dihadiri langsung oleh sang penulis, Farid Gaban, serta peneliti dari Ecoton, Amirudin, sebagai narasumber utama.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Rumah Baca Gang Masjid (RBGM) bekerja sama dengan Rumah Merdeka dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Jombang ini, bertujuan memberikan ruang diskusi sehat guna membedah isi buku yang sempat memicu kontroversi di beberapa daerah lain.

Bukan “Buku Kiri”, Melainkan Catatan Realita

Acara ini sekaligus menjadi ajang klarifikasi atas stigma “buku kiri” yang sempat menyebabkan penghalangan acara serupa di Madiun. Menurut para pengulas yang hadir, buku ini justru ditulis dengan gaya bahasa ringan dan sangat relevan dengan realita sosial masyarakat Indonesia saat ini.

Farid Gaban menjelaskan bahwa karyanya merupakan kristalisasi dari hasil ekspedisi panjang yang ia lakukan. Buku ini menyodorkan tujuh prinsip dasar untuk “menata ulang” Indonesia, di antaranya:

  1. Kembali ke Akar: Menghidupkan kearifan lokal dan cita-cita pendiri bangsa.

  2. Demokrasi Rakyat: Menggeser kuasa elite ke tangan rakyat melalui partai lokal dan koperasi.

  3. Keadilan Ekologis: Komitmen menjaga keseimbangan alam dan sumber daya.

  4. Otonomi Sejati: Memberikan kekuasaan yang lebih nyata pada daerah dan hak adat.

  5. Teknologi sebagai Alat: Memanfaatkan digitalisasi untuk transparansi demokrasi.

Panggilan untuk Generasi Z

Dalam sesi tanya jawab, audiens menanyakan esensi dari kata “Reset” dan harapan penulis terhadap pembaca. Farid Gaban dan Amirudin senada menekankan bahwa buku ini adalah sebuah seruan kesadaran, terutama bagi Generasi Z (Gen Z).

“Harapan besarnya adalah agar Generasi Z lebih peduli dan sadar akan kondisi alam serta carut-marut politik negeri ini. ‘Reset’ yang dimaksud adalah keberanian untuk mengoreksi arah bangsa yang mungkin melenceng dari akar sejarahnya,” ungkap Farid Gaban.

Amirudin menambahkan, riset-riset dari “Ecoton & Ekspedisi” yang menjadi sumber data buku ini membuktikan bahwa kerusakan lingkungan berjalan beriringan dengan kebijakan politik yang tidak berpihak pada rakyat bawah.

Gerakan Literasi dari Bawah

Keberhasilan diskusi di Jombang ini menunjukkan bahwa antusiasme literasi masyarakat tetap tinggi meski di tengah isu sensitif. Melalui link permohonan yang dibuka oleh Watchdoc Institute, Jombang membuktikan diri mampu menyelenggarakan forum intelektual yang tertib dan inspiratif.

Diskusi ini menyimpulkan bahwa #RESET INDONESIA bukanlah ancaman ideologis, melainkan buku panduan kritis bagi anak muda untuk kembali mencintai Indonesia dengan cara yang lebih berdaya dan menjaga keberlanjutan alamnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *