Natal Bernuansa Jawa di GKJW Tropodo: Dihadiri Tokoh Lintas Agama, Buktikan Sidoarjo Kota Toleransi

SIDOARJO — Kehangatan toleransi terasa kental dalam perayaan Natal di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Tropodo, Waru, Sidoarjo, Minggu (21/12/2025). Mengusung tema nasional “Allah Hadir Untuk Menyelamatkan Keluarga”, perayaan ini tampil unik dengan balutan nuansa budaya Jawa yang kental, mulai dari dekorasi hingga busana para jemaat.

Acara yang dimulai pukul 17.00 WIB ini menjadi istimewa karena kehadiran tokoh-tokoh penting lintas agama, termasuk Ketua FKUB Sidoarjo dan penggiat keberagaman.

Kehadiran Tokoh Lintas Agama

Di tengah guyuran hujan, kemeriahan Natal tidak surut. Turut hadir dalam barisan tamu kehormatan:

  • Gus Idham (Ketua FKUB Kabupaten Sidoarjo) beserta jajaran anggota FKUB.

  • Gus Aan (Ketua Jaringan Islam Anti Diskriminasi/JIAD).

  • Fathurachman (Pengusaha nasional).

  • Jajaran pengamanan dari Kepolisian dan Kodim.

Dalam sambutannya, Gus Idham memberikan apresiasi tinggi atas kerukunan yang terjaga di Tropodo. Ia berpesan agar warga selalu menjunjung tinggi nilai toleransi demi kehidupan yang damai sejahtera.

Senada dengan itu, Gus Aan (JIAD) mengutip pemikiran Gus Dur tentang makna universal kelahiran Yesus. “Kelahiran Isa digambarkan sangat indah dalam Al-Quran. Mari kita terus kompak menjaga toleransi karena kita hidup di lingkungan yang beraneka ragam,” ungkapnya.

Nuansa Jawa dan Penampilan Inklusif

Meskipun berada di kawasan urban, GKJW Tropodo memilih merayakan Natal lebih awal agar jemaat dapat beribadah sebelum masa mudik akhir tahun. Keunikan perayaan kali ini terlihat dari sisi inklusivitas:

  1. Drama Keluarga: Menggambarkan pesan mendalam tentang kehadiran Tuhan di rumah tangga.

  2. Penampilan Disabilitas: Memberikan ruang bagi seluruh kalangan untuk berkarya di hari raya.

  3. Lintas Generasi: Mulai dari anak-anak, pemuda, hingga kelompok Adiyuswo (lansia) ikut menampilkan kreasi seni.

Refleksi Natal: Tuhan dalam Keluarga

Pendeta jemaat, Tri Kridhaningsih (Pdt. Ridha), dalam refleksinya mengajak jemaat untuk tidak sekadar merayakan seremonial, tetapi benar-benar menghadirkan Tuhan dalam setiap pergumulan keluarga.

“Bila Allah sudah dihadirkan, maka keluarga kita akan selamat dan dipenuhi damai sejahtera,” tutur Pdt. Ridha.

Perayaan yang berakhir dengan suasana penuh keakraban ini menjadi bukti bahwa perbedaan keyakinan bukan penghalang untuk saling menguatkan dalam ikatan persaudaraan sebagai sesama warga Sidoarjo.

Penulis: BARA MEGA R.Editor: SNF

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *