GRESIK — Puluhan mahasiswa, seniman, budayawan, dan pelaku industri kreatif menghadiri acara Peluncuran Buku Telusur Rupa Setutur Cahaya Dari Pesisir karya Aniendya Christianna di Sualoka Hub, Kampung Kemasan Gresik, Kamis (11/12/2025) malam. Aniendya adalah Dosen Tetap Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif, Universitas Kristen Petra.
Buku setebal lebih dari 300 halaman ini merupakan hasil riset sejak tahun 2016 yang berfokus pada sosok legendaris kesenian Damar Kurung, Mbah Masmundari.
Aniendya, yang akrab disapa Mba Nindy, memaparkan sosok Mbah Masmundari sebagai perempuan yang kuat, dilihat dari perspektif sejarah seni, desain, dan kajian gender.
Merekontruksi Makna Konco Wingking
Melalui peluncuran buku ini, hadirin diajak untuk merekonstruksi ulang makna peran perempuan sebagai konco wingking (teman belakang) yang sering dianggap hanya sebagai pelengkap. Mba Nindy menegaskan bahwa sosok seperti Mbah Masmundari justru menjadi subjek utama yang sangat berpengaruh.
“Konco wingking itu bukan pelengkap, di sini beliau justru menjadi Tut Wuri Handayani, di belakang sebagai mesin pendorong,” ujarnya memaparkan isi buku.
Penulis yang berfokus pada feminisme timur ini juga menceritakan bahwa perjalanan risetnya membuatnya semakin jatuh cinta pada kekuatan perempuan dan menjadikan Gresik sebagai rumah kedua baginya.
Ia berpendapat, konsep feminisme timur, di mana perempuan kuat dalam kodratnya sebagai ibu yang mendidik anak, pendorong rumah tangga, penyokong suami, dan penyiap generasi masa depan, jauh lebih baik dan dapat diterima dibandingkan konsep feminisme ala barat yang dipaksakan dan tidak cocok dengan budaya bangsa Indonesia.














