JAKARTA – Menjelang dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, berbagai capaian strategis pemerintah menjadi bagian penting dalam membaca arah pembangunan dan optimisme masa depan Indonesia.
Hasil analisis digital Sintesa Strategi Indonesia (SSI) menunjukkan sentimen positif terhadap Presiden Prabowo mencapai 59,6 persen, dengan kecenderungan sikap mendukung sebesar 64,6 persen. Direktur SSI Ikrama Masloman, M.I.Kom., menjelaskan bahwa hasil pemantauan percakapan digital selama 1 Juni hingga 17 Oktober 2026 memperlihatkan narasi positif terhadap Presiden masih mendominasi.
Analisis tersebut mencakup 5.112.870 percakapan media sosial, 43.271 konten, dan 1.224.906.406 paparan konten digital dari media sosial serta pemberitaan daring.
“Sentimen positif sebesar 59,6 persen menunjukkan bahwa narasi yang bernada positif terhadap Presiden Prabowo masih mendominasi percakapan digital yang kami pantau. Namun, temuan ini perlu dibaca secara utuh, karena persepsi terhadap Presiden, penilaian terhadap kebijakan, dan keyakinan masyarakat terhadap masa depan merupakan tiga dimensi yang saling berkaitan, tetapi tidak selalu bergerak searah,” ujar Ikrama dalam keterangan resmi, Senin (19/10/2026).
Pendidikan dan Kesehatan Paling Positif
Di tengah dinamika tersebut, pemerintah terus menjalankan berbagai agenda strategis di bidang pembangunan sumber daya manusia, penguatan ekonomi nasional, serta pemerataan pembangunan. Salah satu capaian di sektor pendidikan adalah perluasan program perbaikan sekolah. Berdasarkan publikasi pemerintah, jumlah sekolah yang diperbaiki meningkat dari 16.167 sekolah pada 2025 menjadi 71.744 sekolah pada 2026.
Pada sektor ekonomi, pemerintah mencatat pengembangan Bank Emas Indonesia sebagai salah satu terobosan strategis. Dalam taklimat Sidang Kabinet Paripurna pada Juli 2026, Presiden Prabowo menyampaikan bahwa bank tersebut telah mengelola 153 ton emas dengan nilai sekitar 20 miliar dolar AS dalam satu tahun operasional.
Pemerintah juga melanjutkan penguatan ekonomi desa melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, pembangunan jembatan desa, serta pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih. Presiden Prabowo sebelumnya juga menyampaikan bahwa pemerintah telah menyelesaikan 108 persoalan kronis bangsa dalam 18 bulan pertama pemerintahan. Sejumlah langkah lain mencakup pengampunan kredit macet bagi pelaku UMKM serta peningkatan kesejahteraan hakim.
Dalam analisis lima bidang pemerintahan, pendidikan mencatat proporsi sentimen positif sebesar 85,9 persen, disusul kesehatan sebesar 83,2 persen. Sementara itu, bidang hukum memiliki proporsi sentimen negatif terbesar, yakni 28,1 persen.
Sinyal Peluang Masih Lebih Besar
SSI mengembangkan Future Confidence Index (FCI) untuk membandingkan sinyal peluang domestik, seperti lapangan kerja, kenaikan penghasilan, peningkatan daya beli, dan keterjangkauan rumah, dengan sinyal tekanan seperti pemutusan hubungan kerja, penurunan daya beli, serta kekhawatiran terhadap masa depan.
Secara akumulatif, sinyal peluang domestik masih lebih besar dibandingkan sinyal tekanan. Hasil pemantauan SSI mencatat volume sinyal peluang domestik sebesar 45,88 juta, sedangkan sinyal tekanan dan keinginan keluar mencapai 38,21 juta. Perbandingan tersebut menghasilkan rasio FCI sekitar 1,21.
Meski demikian, SSI mencatat perubahan pada periode 1–17 Oktober 2026, ketika sinyal tekanan mencapai 8,81 juta, sedikit lebih tinggi daripada sinyal peluang sebesar 8,24 juta.
“Optimisme terhadap masa depan tidak cukup dijaga melalui narasi positif. Pemerintah perlu memastikan capaian kebijakan berjalan berkelanjutan, menjawab kebutuhan masyarakat, dan memperkuat kepercayaan melalui hasil yang terukur. Pada saat yang sama, kritik terhadap sektor tertentu perlu dibaca sebagai masukan untuk memperbaiki kualitas pelaksanaan kebijakan,” kata Ikrama.
Bukan Survei Opini Publik
SSI menegaskan bahwa hasil analisis tersebut merupakan pemetaan kecenderungan sentimen dan narasi di ruang digital, bukan survei opini publik berbasis sampel probabilitas yang mewakili seluruh masyarakat Indonesia. Karena itu, temuan ini perlu ditempatkan sebagai salah satu bahan untuk memahami dinamika persepsi publik menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo–Gibran.
Memasuki tahun ketiga pemerintahan, tantangan berikutnya adalah menjaga kesinambungan pembangunan, memperkuat koordinasi antarkementerian, serta memastikan program prioritas memberikan manfaat yang semakin luas.
“Capaian yang terukur dan respons terhadap kebutuhan masyarakat menjadi faktor penting untuk menjaga optimisme sekaligus memperkuat fondasi Indonesia menuju masa depan yang lebih sejahtera,” imbuhnya.












