Dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-26, Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Jawa Timur menggelar rangkaian kegiatan sosial dan budaya bertema “Membumikan Persatuan, Mewariskan Keberagaman, Merawat Kebangsaan.” Kegiatan tersebut berlangsung di Omah Gede, Kampung Pecinan Tambak Bayan, Bubutan, Surabaya, Rabu (16/4/2025).
Rangkaian acara yang terdiri dari bakti sosial, halal bihalal, dan bincang budaya ini menggambarkan komitmen INTI Jatim dalam menjalankan program kerja di bidang sosial, kebangsaan, dan kultural. Momentum ini pun semakin bermakna karena digelar dalam suasana pasca-Idulfitri, yang sarat dengan nilai-nilai toleransi, persaudaraan, dan kebersamaan dalam bingkai kebinekaan.
Omah Gede yang menjadi lokasi acara merupakan salah satu bangunan bersejarah yang sarat nilai perjuangan dan akulturasi budaya warga Tionghoa di Surabaya. Bangunan ini menjadi saksi perjalanan panjang komunitas Tionghoa—baik dalam melawan penjajah maupun menjaga keberagaman etnis di Indonesia.
Acara dimulai dengan bakti sosial berupa layanan gratis untuk masyarakat seperti potong rambut, bekam, pijat refleksi, akupunktur, hingga konsultasi hukum yang bekerja sama dengan Badan Pengurus Wilayah Persatuan Advokat Indonesia Jawa Timur (BPW PERADIN Jatim). Warga sekitar pun tampak antusias mengikuti berbagai pelayanan yang tersedia.
Tak hanya itu, berbagai produk UMKM dari warga Tambak Bayan juga turut meramaikan kegiatan ini. Hal ini sebagai bentuk nyata dukungan INTI Jatim terhadap pengembangan ekonomi lokal berbasis komunitas.
“Kegiatan ini tidak hanya sebagai ajang silaturahmi dan mempererat hubungan antarorganisasi sosial, keagamaan, dan komunitas di Jawa Timur, tetapi juga bentuk kepedulian nyata terhadap masyarakat sekitar,” ujar Stefanus Budi Widjaja, Ketua INTI Jatim.
Dalam sesi bincang budaya, hadir penulis dan peneliti Novi Basuki, Ph.D., yang dikenal pula dengan nama Wang Xiaoming (王小明). Pakar hubungan Indonesia-Tiongkok ini mengangkat pentingnya pelestarian nilai-nilai kebangsaan di tengah keberagaman dan globalisasi.
Acara yang turut berkolaborasi dengan Rumah Bhinneka ini juga mengundang sejumlah komunitas lintas iman dan organisasi sosial. Diskusi menjadi hidup karena tidak hanya membahas isu keagamaan, tetapi juga kekayaan budaya dan tantangan zaman.
Ketua panitia acara, Andy Wangi, menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang telah mendukung jalannya kegiatan.
“Terima kasih kepada semua yang telah terlibat, termasuk masyarakat Tambak Bayan yang telah aktif berpartisipasi. Semoga acara ini menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi, meningkatkan kepedulian sosial, dan merawat harmoni dalam keberagaman,” ujarnya.
Sebagai penutup, para peserta dan undangan disuguhi kuliner khas Pecinan Tambak Bayan seperti lontong mie dan lontong sayur, yang dapat dinikmati sambil menyusuri sejarah dan keindahan arsitektur Omah Gede—sebuah simbol ketangguhan budaya di tengah modernisasi kota.














