ARSAS Kecam Intimidasi Ormas: “Suroboyo Iku Kuto Pahlawan, Duduk Kuto Preman!”

SURABAYA — Keresahan masyarakat terhadap aksi pamer kekuatan (show of force) dan intimidasi oleh oknum organisasi kemasyarakatan (ormas) di media sosial memicu reaksi keras dari komunitas lokal. Arek Suroboyo Asli (ARSAS) secara resmi mengeluarkan pernyataan sikap menolak segala bentuk praktik premanisme yang mulai merambah ruang digital, Jumat (26/12/2025).

ARSAS menilai tindakan provokatif tersebut telah mencederai jati diri warga Surabaya dan mengganggu kondusivitas kota yang dikenal sebagai simbol keberanian dan persatuan.

Keberanian Berdasar Benar, Bukan Seragam

Ketua Umum ARSAS, Herry Bimantara, menegaskan bahwa filosofi “Wani” milik Arek Suroboyo harus ditempatkan pada konteks membela kebenaran, bukan sebagai alat untuk menakut-nakuti sesama warga.

“Surabaya ini kota yang beradab dan menghargai hukum. Kami tidak akan memberikan ruang bagi siapa pun yang merasa di atas hukum dan mencoba mengganggu ketenangan warga dengan gaya premanisme,” tegas Herry dalam keterangan persnya.

Pernyataan Sikap Arek Suroboyo (ARSAS)

Menanggapi maraknya konten provokatif di media sosial, ARSAS merumuskan lima poin tuntutan utama:

  1. Kecam Premanisme: Mengutuk keras intimidasi oknum ormas, baik secara fisik maupun melalui konten digital.

  2. Tolak Konten Provokatif: Menolak media sosial dijadikan ajang pamer massa dan penyebaran kebencian.

  3. Tegakkan Jati Diri: Menegaskan Surabaya sebagai kota hukum, bukan wilayah praktik premanisme.

  4. Desak Aparat Bertindak: Meminta Polrestabes Surabaya dan Polda Jatim menindak tegas pelanggar UU ITE atau pelaku pengancaman tanpa pandang bulu.

  5. Seruan Guyub Rukun: Mengimbau warga tetap tenang, tidak terprovokasi, dan mengedepankan musyawarah.

Pesan Menohok untuk Pembuat Kegaduhan

Herry Bimantara menutup pernyataan sikapnya dengan kutipan khas dialek Suroboyoan yang ditujukan bagi pihak-pihak yang mencoba merusak kedamaian kota.

“Suroboyo iki kuto pahlawan, duduk kuto preman. Sing sopan nek dadi tamu, sing tertib nek dadi warga,” (Surabaya ini kota pahlawan, bukan kota preman. Yang sopan jika jadi tamu, yang tertib jika jadi warga).

ARSAS berkomitmen untuk terus menjadi garda terdepan dalam mengawal ketertiban umum. Mereka memastikan Surabaya tetap menjadi kota yang manusiawi, aman, dan damai bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa bayang-bayang intimidasi massa.

Penulis: RENDRAEditor: SNF

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *