Mahasiswi Unimor Bongkar Plus-Minus K13 dan Kurikulum Merdeka di SMAS Pelita Karya

KEFAMENANU – Empat mahasiswi Program Studi Biologi Universitas Timor (Unimor) Semester III melaksanakan observasi lapangan di SMA Swasta Pelita Karya Kefamenanu, Senin (13/10/2026). Observasi ini merupakan tugas dari Mata Kuliah Telaah Kurikulum Biologi Sekolah Menengah Atas yang diampu Dosen Maria Paulina Saridewi, S.Pd., M.Pd.

Fokus observasi adalah menggali informasi secara langsung tentang implementasi kurikulum di sekolah, khususnya kelebihan dan kelemahan Kurikulum 2013 (K13) dan Kurikulum Merdeka.

Adapun mahasiswi yang melaksanakan observasi tersebut adalah Yuliana Melna Habu, Yanuaria Abuk, Yanuaria Seran, dan Maria Melita Bere.

Kegiatan observasi diterima langsung oleh Kepala Sekolah SMA Swasta Pelita Karya Kefamenanu, Alexander Salu, S.Pd., melalui Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Klaudius A. Sanbein, S.Pd., Gr.

Pernah Jalani Dua Kurikulum Sekaligus

Dalam wawancara tersebut, Klaudius A. Sanbein menjelaskan bahwa SMAS Pelita Karya merupakan sekolah yang telah memiliki pengalaman lengkap dalam penerapan kedua kurikulum tersebut.

“Sekolah kami pernah melaksanakan Kurikulum 2013 secara penuh, dan juga pernah berada pada masa transisi yang tidak mudah, yaitu melaksanakan dua kurikulum yang berbeda dalam satu tahun pelajaran,” ujar Klaudius.

Kelebihan dan Kelemahan Kedua Kurikulum

Menurut Klaudius, masing-masing kurikulum memiliki karakteristik tersendiri. Kurikulum 2013 memiliki kelebihan pada struktur materi yang sistematis, rinci, dan terukur. Penilaian yang mencakup aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan membuat guru lebih detail dalam mengevaluasi siswa.

Namun, kelemahannya, K13 dirasakan terlalu padat materi, membebani siswa dengan administrasi, dan kurang memberi ruang bagi guru untuk berkreasi serta menyesuaikan dengan konteks lokal.

Sementara itu, Kurikulum Merdeka dinilai lebih fleksibel, berpihak pada siswa, dan memberikan kemerdekaan belajar. Siswa didorong untuk berpikir kritis melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), dan guru diberi ruang untuk mengembangkan pembelajaran sesuai potensi daerah.

Kelemahannya, Kurikulum Merdeka menuntut kesiapan guru yang tinggi, ketersediaan sumber belajar yang memadai, dan pemahaman yang mendalam tentang pembelajaran berdiferensiasi, yang belum merata di semua sekolah.

Tantangan Guru di Lapangan

Klaudius juga mengungkapkan kesulitan paling nyata yang dialami guru-guru di lapangan. Kebijakan nasional terkait pergantian kurikulum sering kali berubah cepat, namun tidak dibarengi dengan sosialisasi dan pemberdayaan guru yang memadai.

“Kebijakan pusat berganti, tapi sosialisasi dan pelatihan untuk guru sangat minim. Guru langsung diminta menjalankan kurikulum baru tanpa pembekalan yang cukup. Ini sangat sulit,” tegasnya.

Menyikapi kondisi tersebut, SMAS Pelita Karya Kefamenanu mengambil langkah mandiri. Sekolah secara swadaya melaksanakan In House Training (IHT) untuk pemberdayaan guru.

“Kami sadar, tanpa IHT, kurikulum baru akan sulit dipahami. Maka sekolah membuat IHT mandiri, saling berbagi pengetahuan antarguru, agar implementasi di kelas tetap berjalan maksimal demi anak-anak,” tutup Klaudius.

Observasi yang menjadi bagian dari perkuliahan Maria Paulina Saridewi, S.Pd., M.Pd. ini diharapkan memberikan gambaran nyata kepada mahasiswa tentang dinamika kurikulum di lapangan, tidak hanya sebatas teori di kampus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *