Amerika Serikat resmi melancarkan serangan terhadap tiga fasilitas nuklir utama milik Iran, yakni Fordo, Natanz, dan Isfahan, pada Sabtu malam waktu setempat atau Minggu pagi waktu Indonesia. Serangan dilakukan dengan menggunakan pesawat pengebom B‑2, rudal Tomahawk, dan bom bunker GBU‑57.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyebut serangan tersebut sebagai “sangat sukses” dan menegaskan bahwa tidak akan ada pengerahan pasukan darat dalam operasi ini. Pentagon dan Gedung Putih belum memberikan penjelasan rinci terkait jenis senjata yang digunakan maupun jumlah pasti korban jiwa.
Menurut laporan media nasional dan internasional, serangan ini menjadi bagian dari eskalasi konflik setelah sebelumnya Israel melancarkan serangan ke wilayah Iran. Beberapa pengamat menyebut keterlibatan langsung Amerika Serikat menandai dimulainya fase baru dalam perang regional antara Iran dan Israel.
Menanggapi serangan tersebut, Badan Energi Atom Iran menyatakan bahwa tidak ditemukan kontaminasi radioaktif di sekitar lokasi yang diserang. Pejabat Iran juga mengklaim bahwa kerusakan yang terjadi bersifat dangkal dan dapat segera diperbaiki.
Sementara itu, ledakan dilaporkan terjadi di beberapa kota di Israel, termasuk Tel Aviv, tak lama setelah serangan Amerika Serikat terhadap Iran. Belum diketahui apakah ledakan tersebut merupakan bagian dari aksi balasan atau insiden terpisah.
Hingga saat ini, situasi di kawasan Timur Tengah masih tegang dan berpotensi memicu konflik yang lebih luas. Iran belum secara resmi mengumumkan langkah balasan, namun sejumlah kelompok sekutu Iran di kawasan, seperti Houthi di Yaman, telah mengancam akan menyerang kepentingan Amerika Serikat jika konflik terus berlanjut.












